Minggu, 07 Februari 2016

pusi minggu

Antara hijrah dan istiqamah
Ketika dua kata itu disandingkan
Ada gelisah yang berkecamuk
Dalam hati, yang tak bisa dimengerti
Hijrah selalu menawarkan jutaan
Kesyahduan yang menjuntai
Pada tali-tali jiwa yang mampu istiqamah
Namun, terkadang keteguahan hati
Diuji ketika memutuskan untuk pindah
Orang bilang ada indah di setiap pindah
Kenyataannya adalah tak semulus bayangan
Untuk menunju puncak istiqamah hati
Seperti tampak tertatih, hingga semuanya
Terasa melelahkan

Geram
Rupa merona kemerahan
Memancarkan geram
Hati pun meronta
Berdemo geram
Raga seakan mati rasa
Geram tanpa suara
Berharap kekuatan abracadabra muncul
Menepis rasa geram
Genggaman rasanya ingin menghentikan
Hingga geram segera pergi
Sorakan itu seperti menggema
Mengularkan kemampuan kegeramanku

Oh senja
Sebenarnya ingin kutliskan
Pesonamu yang tampak indah
Namun saat kunanti sore tiba
Jejakmu tak bisa kulihat dilangit
Hanyalah tampak langit buram
Bercampur gelap,
Oh senja dimana kau kini
Yang selalu mengundangku
Tuk menenmukanmu di tempat
Terindah hingga pesonamu tampak nyata
Di saat aku berada di tempat yang tepat
Senja tak pernah mengizinkan ku tuk
Melihat prosesnya hingga membentuk
Lembayung sutra di angkasa
Oh senja suatu hari nanti kau kan tampak indah
Di tempat yang tepat di masa depan



Selasa, 02 Februari 2016

Kasih Berbalut Rindu

Kasih Berbalut Rindu
Tali kasih yang tak akan pernah putus sepanjang masa adalah keluarga, tanpa mereka  kita tak akan pernah menjadi apa-apa. Di saat kita berada jauh dari mereka, barulah menyadari bahwa rindu itu selalu beremayam dalam hati. suasana rindu itu, memang bisa diobati dengan menelepon tapi kurasa itu tak cukup. Tak ada penawar yang mampu menolak rindu selain menggambarkan orang terkasih. umak, apak, adek, neng rinuk kitak.

Umak
Umak adalah sesosok makhluk paling indah yang bisa berubah-rubah tergantung suasana hatinya. Kesederhanaan yang selalu beliau ajarkan, membuatku semakin rindu dan ingin memeluknya, mendengar suaranya lewat telepon saja membuat rasa ini seperti sangat-sangat merindukannya. Aku benar-benar merasakan kasih sayang dari umak adalah saat aku berada jauh darinya. Walaupun dulu ketika masih sekolah umak tak pernah absen mengomeliku, karena sering terlambat bangun pagi, kemudian juga mengomeliku karena suka menonton drama korea. Setelah berada jauh darinya barulah benar-benar merasakan hidup mandiri. Selain rindu omelan umak, aku juga rindu dengan masakan umak, aroma ayam kecap dan rebung asam pedas yang membuat melting. Neng tahu umak pasti berat melepas neng pergi jauh, kegagalan yang dialami memang umak kurang merestui eneng kuliah di luar Kalimantan. Tapi eneng akan buktikan pilihan neng kuliah dan merantau adalah untuk menjadi anak yang bisa membahagiakan orang tua.

Apak
Apak adalah lelaki terhebat di seluruh jagad raya ini. Apak kurindu belaian tanganmu di atas kepalaku dan saat engkau sering memencet hidungku. Kurindu saat apak selalu ada di saat raga ini selalu merasa gelisah dan juga mendekati kata putus asa, bahunya selalu siap menopang kepala dan membiarkan diri untuk menceritakan keluh kesah yang terjadi. Apak kurindu senyummu yang tulus kepada siapa saja. Di saat apak menelepon dan mengatakan “Belajar benar-benar dan jangan terlalu banyak berpikir yang macam-macam” membuatku ingin meneteskan air mata dan apak rasanya detik ini kuingin memelukmu erat. Kutahu betapa berat tanggung jawabmu sebagai seorang ayah, tapi aku salut denganya yang tak pernah memperlihatkan lelah dan sedihnya kepada anak-anaknya. Kepercayaan yang apak tanamkan padaku, insyaAllah tak akan kukecewakan. Apak adalah sosok lelaki penyebar sedunia yang pernah kukenal. Maka izinkan anakmu ini untuk membalas setiap keringat yang berikan untuk anakmu ini di masa depan nanti.

Adek
Adek adalah makhluk paling mungil di keluarga kami yang berjenis kelamin perempuan. Usianya terpaut tujuh tahun dariku. Hal yang kurindukan darinya adalah berebut remote tivi karena kami tidak pernah akur dan satu visi saat menonton tivi, adek sukanya nonton kartun akunya suka nonton drama korea bentrok jadinya dan tak jarang menimbulkan korban merajuk antara aku atau dia, juga menjahili dirinya hingga menangis adalah kesenangan ku dulu pada saat masih sekolah. Rindu juga di saat mengerjakan PR bersama-sama, juga saat mengantarkannya di depan gerbang sekolah. Dulu kami sempat mengira adek hidupnya tidak lama lagi, dikarenakan pada saat itu lagi heboh-hebohnya penyakit demam berdarah. Selama berbulan-bulan adek terbaring di rumah sakit Sanggau  kondisinya sudah pada tahap kritis. Pada saat itulah diriku merasa kehilangan sosok adek, saat itu juga aku berjanji akan selalu menyayanginya dan tak pernah menjahilinya. Sekarang ia sudah mulai beranjak remaja dan ia selalu menanti kedatanganku di rumah. Adek tunggu ya, neng akan pulang dan menceritakan  buanyaaak hal


Senin, 01 Februari 2016

LOVE STORY IN MY CLASS

LOVE STORY IN MY CLASS

Ditemani dengan pop mie, terasa cocok untuk menemani saat hujan, juga menemaniku menuangkan sekelumit kisah hari ini. Topik tentang pasangan hidup tampaknya sedang booming-boomingnya di kelas, apalagi kalau udah mata kuliah fiqih, pasti pertanyaannya terkadang menyimpang masalah seputar pernikahan. Jika sudah ,membahas hal tersebut kelas menjadi hidup, yang ngantuk setengah hati jadi melek sepenuh hati, tertawa sambil senyum-senyum tak jelas saat mendengar penejelasan dosen.

Ada lagi ketika dosen masuk melihat kelangkaan lelaki di kelas, mengatakan dunia itu memang sudah tampak jelas tanda-tanda kiamatnya di kelas ini, laki-lakinya aja tinggal 5 orang, oh no, terus beliau bilang buat para cewek-cewek harus siap-siap dimadu, oh gak kebayang apa jadinya nanti. Teori poligami sepertinya sudah meracuni sebagian pikiran orang-orang di kelas, sehingga mendoktrin semau hatinya, cieh bahasaku berat amat dah.

Permasalahannya adalah kenapa seseorang yang single seperti diharamkan di kelas, sampai-sampai ada yang bertanya kamu maunya yang seperti apa nanti aku carikan. Mirisnya nasib. Terus pakai acara dijodoh-jodohin lagi, sekarang bukan zamannya siti nurbaya lagi ya. Apalagi di setiap kesempatan selalu menggoda tak jelas, terkadang risih juga sih ngeliatnya.

Bagi sebagian orang untuk berkomitmen bukanlah hal yang biasa, karena ia memandangnya begitu istimewa sehingga ia menunggu waktu yang tepat sambil memperbaiki dirinya untuk menunggu masa itu. Memang cinta yang ditawarkan dalam bentuk pacaran tampak seperti menggugah, tapi sayangnya tak semua orang menginginkan cinta semacam itu, cinta adalah sebuah rasa yang patut dihormati, tanpa ternodai sedikit pun dengan cinta yang semu itu.

cinta memang terlihat manis di awal, tapi terkadang ada sebuah akhir yang menyakitkan. Contohnya saja ada orang yang pacaran selama 7 tahun dari sma sampai kuliah, udah kenal sama keluarga terus putus begitu saja di tahun ke-7nya, gak mau deh kejadian tersebut terjadi pada diri, semoga saja dijauhkan amin.



Sabtu, 30 Januari 2016

PUISI TENTANG HUJAN

Sore di bulan Januari, terasa aneh jika tak ada hujan. Meski senja tak terlihat indah karena pesona lembayungnya, hujan juga membawa romantisme bagi yang memaknainya dengan sepenuh hati. ketika pertanda hujan mulai dirasakan setiap orang sibuk dengan argumennya masing-masing ada yang bergegas ngebut-ngebutan, ada yang memasangkan jas hujan, tapi aku saat hujan itu turun, mengingatkan pada masa kecil yang tertawa bahagia menari diiringi rintik-rintik hujan kesana- kemari karena begitu senangnya terhadap hujan. Kini, hanyalah bisa menunggu ia reda, barulah pergi, dan hujan akan membawa kisah, yang terkadang membuat kita tersenyum tiada dusta di dalamnya karena this a moment imposible tobe possible, and so imprsive, guys, finaly you can try!!!!!!!!!!



Bait-bait hujan
Tanpa sadar pandangan berada
Di antara rintik-rintik hujan
Menjelma menjadi bait-bait
Keindahan mengalun berdesir
Hingga jatuh ke dasar hati

Berdiri menghadap bait-bait hujan
Terasa istimewa sepanjang hari
Karena pesonamu sempat menahanku
Sejenak tuk memandangmu takjub
Membiarkan setiap detiknya  mengalir
Bersama bibir yang tersenyum simpul

Hanya saja di antara bait-bait hujan itu
Tuk Menggapai kemewahan yang dialirkan
Terasa tak mungkin, karena perlu menghitungnya
Butuh energi sekuat hati tuk menghadapinya

Memandangimu saja adalah bahagiaku
Tak perlu jejak tuk mengenangmu
Walaupun tak akan bisa menjadi bagian
Bait-bait hujan yang menggema
Cukup dengan dua bola mata menjadi saksi
Keberadaanmu

Berkelana dalam hujan
Kaki seakan berjalan tak tentu arah
Waktu seakan membisu
Gemuruh hati seakan memuncak
Gema hati pun seakan pecah

Untuk apa menanti mendung
Jika Angin kan sampaikan pesan
Walau hati berkelana mencari celah
Yang masih tersisa di antara rintiknya

Butir-butir beningnya hujan
seperti layaknya senandung
Yang bergemuruh direlung hati
Yang masih berkelana mencari
muara daripada rasa

hati dan raga seperti diadu
tuk menemukan siapa pemenang
yang kan berwujud pada rasa
yang tampak nantinya


Antara aku, kau, dan hujan
Aku berhenti sejenak
Saat gejala bergejolak
Mendatangkan suara rintik
Membuat semua terhentak

Suara berirama menyulam hujan
Membiaskan dinding dengan rintikan
Hanya tiang yang menjadi sandaran
Melabuhkan rasa untuk menunggu

Kau, bersama Biasmu tampak diseberang
Sambil bersandar di samping tiang
Membawa semilir tanda Tanya
Ketika tatapan menghiasi pandangan

Kau, hadir kembali saat lupa nyaris sempurna
Keadaan seakan meluluhkan kenyataan
Kau seperti rintik yang terasa menari-nari
Dalam hati, hingga terbuai suasana

Hujan menjadi tirai pembatas antara kau dan aku
Hujan juga siap menghempas rasa tuk menggapainya
Hujan akan mendatangkan seribu kemungkinan
Hanya keheningan hati menjadi penawar di antara rintik
Tuk menghibur rasa terlanjur basah oleh hujan
Dalam batin yang pernah berkecamuk karenamu











Selasa, 26 Januari 2016

BUJANG KERAMAT

BUJANG KERAMAT

VERSI BAHASA MELAYU SANGGAU

Ujan pangkar kilat, di antong benama Balai Karangan. Pas di kampong nyak ada orang yang agik nganong bungas, pas gak ujan kilat nya nyak beranak, suara umak ah ajom kedinga gosak ujan, dukun beranak pun nulong umak ah noran anak ah nyak. Apak ah pun ada di siak, ngeliat bini ah pangkas ngis, ngerising noran anak ah nyak tepansut. Saking takut apak, ah pun kili-kulu bejalan begogar ngeliat ah. Beropai jam kemudian umak ah pun tediam dari pangkas ngis, pas kilat pun nyamar umak ah diserota dengan bunyi Guntur kuat. Ajom di sangka-sangka anak ah pun laher lelaki, tapi pina lama lagi ada keluar anak biak, sampai 3 kali, tapi mada sik suara ah, dukun beranak dengan apak ah pun aneh ngeliat ah.
Apak ah pun nyak netes aik mata ah ngeliat anak ah mati semua, di tongah suasana sedih, pangkar kilat tamak ke kamar, nyamar umak ah, tedingalah suara nangis anak biak, semua idak di siak kerayak ngeliat ah.
“Alhamdulilah, o abang laher anak kau tih, lelaki agik upa ah.”
“Ngih Ce’, situ kula migang nyak ngazankan”
Apak ah pun ngamik anak biak nyak lalu, liat ah “Ce’ ngapai anak biak tuk mada bunyi ah agik upa ah,” dilat ah somak-somak, tiba-tiba PLAK. Anak biak nyak nerajang muka apak ah samel ketawa “Ngapai tih bang, tejatu” anak biak tu tih nerajang kula pakai kaki ah, kuat ah gak ikau nak, bela menyadik kau ningal, ikau senirik jak yang betuah, apak muri nama ikau BUJANG KERAMAT”
Betaun-taun belalu, Bujang Keramat pun jadi anak bujang, malar nyantai di kayu’ ara somak aik Sekayam, dari kocik sampai bosar enya dengan kawan-kawan ah tuju nyantai di kayu’ ara, samel ngael gak.  udah belajar ngaji, masih lengkap kopeah di atas kepala, sarong yang diselempang, idak ah bejalan ke aik Sekayam ngabas pukat dengan kael. Urang-urang tuju dengan bujang keramat gosak budi pekerti ah.
Macam biasa Bujang Keramat pun ke aik Sekayam nyantai di kayu’ ara, lalu ada urang nanyong yang beperahu di aik, urang tua nyak ah mawa lelaki urang penatang. Jaman ah pun somak dengan kayu’ ara nyak, urang tua yang nanyong tih masih di atas perahu minta tulong dengan sidak ah.
“O , segela urang bujang, dari pada kitak mada polah bagus nulong pak ngah kau tuk ngobat tali perahu”
Idak ah pun nulong urang tua nyak ah, ngobat tali di jaman,
“Saja nak mati melayu ah nok gaya kita tuk, ngobat nyak pun nak mati lama ah”
“O,  pak ngah, masih beruntong dak kula mau nulong ngobat tali tuk ah, kami memang urang melayu, tapi asal pak ngah tau, ajom semua urang melayu nyak kelalah, biar kami tuk cuman petani, cuman cukup pakai makan jak, yang penting halal, kami urang melayu tuk ajom tamak harta pak ngah, emang pak ngah urang penatang, tau cakap melayu upa ah?”
“Terserah kita lah, yo tuan kita ke sana aja, malas saya nak beladen dengan sidak-sidak ni” urang tua nyak pun mawa urang penatang nyak pogi
“O, bujang aku curiga dengan sidak inang-inang ada burok empodu’ ah”
Pina lama, kecurigaan sidak ah pun bonar, urang penatang nyak, nyak enjajah Balai, nyak nguasai. Urang balai pun diiming-iming duet banyak teros, banyak kayu’ durian ditobang, dijadi ah papan pakai molah rumah.
Bujang pun naik pitam, ninga kampong, di jajah macam nyak. Nya pun bepiker, kalau di kampong ah mada sik agik durian, bearti durian paling nyaman mada sik agik di dunia tuk. Nya pun nyusun rencana. Dengan kekuatan kobal ah, tapi mada sik yang tau, bujang keramat nanam buah durian yang abis di tobang, secopat kilat. Urang kampong pun geger ngeliat kejadian nyak ah. Urang penatang yang burok empodu ah dengan pak ngah tih pun tekojut ngeliat durian yang di tobang tau tumuh bosar agik. Durian ajom sigik jenis agik,  bemacam-macam jenis ada yang upa emas, tembaga, ada yang mesik biji ah.
Urang kampong bekerumun ngeliat  segala kebon-kebon durian yang keramat nyak ah. Ajom disangka-sangka kedinga di kayu’ durian suara ngomong.
“Oy bela manusia, inang kitak mudah kona penagaruh urang-urang yang nyak ngerusak utan. Bela durian yang bemacam-macam nyak sebagai ganti, teros peringatan bagi kita supaya inang sama sekali ngerusak utan”
“Ngih Uju kayu’. Kami bole agik nerima urang yang beniat nyak ngerusak utan”
Bela urang-urang pu sadar dan bole agik nyual tanah apai agik nyual kebon durian ah. Sidak ah pun pulang ke rumah ah senirik-senirik bubar dari kerumun. Di atas kayu’ durian yang agik bebuah, Bujang pun dudok di dahan kayu’ ah, dipangkal ah buah durian nyak, samel kaki ah tejuntai ke bawah.  Pina lama, apak bujang keramat tekiak-kiak nyari anak ah. Apak ah pun ngenua’ ke atas lalu
“Di siak upa ikau nok, inang-inang ikau yang ngila bela urang tadi tih???”
“Hehehe, auk pak”
“BUUUUUUUUJAAAAAAAAAANG KERAMAT”

VERSI INDONESIA

BUJANG KERAMAT

Hujan di sertai petir dan kilat menyambar tempat bernama Balai Karangan. Di tempat itu kebetulan ada orang yang lagi mengandung anak pertama. Saat hujan disertai petir dan kilat itu ia pun hendak melahirkan. Suara sang ibu tidak terdengar karena hujan yang begitu deras. Dukun beranak pun membantu melahirkan anaknya. Sang ayah pun ada di situ, melihat isterinya yang lagi menangis meringis, hendak mengeluarkan anaknya. Saking takutnya sang ayah pun berjalan kesana-kemari, dengan bergetar. Beberapa saat kemudian sang ibu pun terdiam dari teriakannya, kilat pun sempat menyambar sang ibu, dan tak disangka-sangka sang anak pun lahir lelaki, tapi tidak lama kemudian terlahir lagi bayi hingga 3 kali berturut-turut, anehnya ketiga-tiga bayi itu tidak bersuara, dukun beranak dan ayahnya menatap aneh.
Sang ayah sempat meneteskan air mata melihat anaknya meninggal semua. Di tengah suasana sedih itu, petir disertai kilat masuk ke dalam kamar menyambar sang ibu, lalu tedengarlah suara sang anak, mereka semua pun kaget melihatnya.
“Alhamdulillah, o Abang lahir juga anakmu lelaki lagi sepertinya” kata si dukun beranak
                “Ya Ce’, bawa sini saya akan mengazankan”
Sang ayah pun memangku sang anak, lalu dilihatnya “ Ce, kenapa anak ini tidak ada suaranya” sang ayah pun melihat lebih dekat, tidak lama kemudian PLAK, sang anak itu menendang wajah sang ayah sambil tertawa girang. (kenapa kamu terjatuh bang?”, “Anak ini tadi menendang saya, pakai kakinya, kuat juga kamu ya nak, saudaramu yang lain meninggal, kamu sendiri saja yang beruntung dan kuat, ayah beri kamu nama BUJANG KERAMAT”
Tahun demi tahun berlalu, Bujang Keramat pun menjadi anak remaja yang suka bersantai di pohon Ara di dekat sungai Sekayam. dari kecil hingga besar, ia bersama teman-temannya suka bersantai di atas pohon ara tersebut. selesai belajar mengaji, masih lengkap kopiah di atas kepala, sarung yang diselempangkan, mereka berjalan menuju sungai sekayam mengunjungi jerat pukat dan juga pancingan. Orang-orang pun suka dengan bujang keramat karena budi pekertinya.
Seperti biasa Bujang Keramat pun bersantai di atas pohon ara dekat dengan sungai sekayam. tak lama kemudian ada orang yang berjualan dengan menggunakan perahu membawa lelaki pendatang, jamban nya pun dengan pohon ara. Orang tua yang berjualan tadi pun meminta tolong kepada mereka.
“ Para orang bujang, daripada tidak ada kerjaan,  lebih baik membantu pak ngah mengikatkan tali perahu ini di jamban!”             

mereka pun menolong orang tua itu, mengikatkan tali perahu ke jamban.
“Ya ampun, melayu sekali kalian ini, mengikat tali saja lama sekali”
“O, pak ngah, masih beruntung kami bantu mengikatkan tali ini, kami memang orang melayu, tapi asal pak ngah tahu, tidak semua orang melayu itu pemalas, biarpun kami hanya petani, hanya cukup makan saja, yang penting halal, kami orang melayu tidak tamak akan harta, pak ngah!, bukannya pak ngah juga orang melayu? Sepertinya bisa berbahasa melayu”
                “Terserah kalian saja, ayo tuan kita ke sana saja, malas rasanya bertengkar dengan mereka ini” pak ngah pun membawa orang pendatang itu pergi”
“Bujang aku curiga dengan mereka, jangan-jangan mereka hendak berniat jahat”
Tidak lama kemudian, kecurigaan mereka pun benar, orang pendatang itu ingin Menjajah Balai Karangan. Orang kampong pun diimingi uang yang banyak kemudian banyak pohon durian ditebang, dijadikan papan untuk membuat rumah.
Bujang Keramat pun naik darah, mendengar kampunya dijajah orang seperti itu. dia pun berpikir, kalau di kampongnya tidak ada durian lagi, berarti tidak ada lagi durian terenak di bumi ini. dia pun menyusun rencana. Dengan kekuatan kobal (super), tetapi tidak ada yang tahu, bujang keramat menanam buah durian, di tempat yang habis ditebang pohonnya, ia menanamnya secepat kilat. Orang kampong pun heboh melihat kejadian itu. orang pendatang dan pak ngah pun terkejut melihat pohon yang baru ditebang bisa tumbuh lagi dan duriannya tidak hanya satu jenis melainkan berbagai macam jenis,ada yang seperti emas, tembaga, bahkan ada yang tidak ada bijinya ketika dimakan.
Orang kampong berkumpul melihat kebun-kebun durian yang keramat. Tak disangka-sangka durian itu pun berbicara.
”Hai manusia, jangan kalian mudah terpengaruh orang-orang yang hendak merusak hutan. Durian yang ada itu sebagai pengganti, dan peringatan bagi kalian jang sampai merusak hutan”
Orang-orang pun tersadar dan tidak lagi menjual tanah apalagi menjual kebun duriannya. Mereka kemudian bubar pulang ke rumah masing-masing.  Di atas pohon durian yang sedang berbuah, bujang duduk di ranting yang besar sambil mebelah buah durian, dengan kaki yang berjuntai ke bawah. Tidak lama kemudia sang ayah pun berteriak-teriak mencari bujang. Sang ayah pun melihat ke atas, lalu
“Di situ kamu rupanya bujang, jangan-jangan kamu yang pura-pura jadi pohon yang bisa ngomong itu ya?”

“Hehehe, iya pak”
“BUUUUUUUUUUUUJAAAAAAAAAAAANG KERAMAT”





Jumat, 22 Januari 2016

my poem


Ketika lelah mulai menyapa
Lelah nalar ini harus berpikir keras
Demi mencari sebuah petunjuk
Yang berujung pada sakit yang membekas
Karena keadaan seperti berbalik

Berbagai keraguan datang
Tanpa permisi hadir di pikiran
Hingga hati terasa bimbang
Tak berdaya merelakan

Atas semua yang telah terjadi
Seluruh raga ini terasa lelah
Ketika segalanya seperti badai
Menghantam hati dalam resah

Saat itulah lelah mulai menyapa
Hari-hariku dengan menyiksa
Membiarkan hati binasa
Sampai ke dasar samudera


Tertaih dalam harapan
Membangkitkan kenangan
Sama saja dengan mengulang
Duka yang telah lama bersarang
Yang tak sudi tuk dijamah lagi

Perubahan zaman tak sepenuhnya
Membawa keindahan pada hidup
Untuk membangun kembali
Harapan-harapan di masa lalu

Harapan itu memang menawarkan
Berjuta-juta keindahan
Tapi, dalam menggapainya
Raga ini tertatih-tatih

Partikel-partikel badai datang
Menguji diri dari awal hingga
Pertengahan jalan menuju
Harapan itu

Dalam rasa yang tertatih ini
Terselip keinginan tuk bisa
Mencapai akhir yang
Membahagiakan

Seandainya
Kata seaindainya tak kan ada habisnya
Hadir tuk menghiasi kata yang terucap
Kata yang hanya membawa semilir angan
Lalu membatasi orang pada kata cukup

Jika banyak kata seandainya yang terucap
Maka bersiaplah mengikhlaskan mimpi-mimpi
Menjadi sebuah kenangan yang tak pernah tergapai
Sebab dibalik kata seandainya menyimpan
Makna menyerah

Lihatlah ketika kita berucap
Seandaianya
Seandainya
Seandainya
Pada akhirnya berujung pada pemikiran
Tidak mungkin bisa

Hanya ada satu kekuatan untuk melawan
Kata seandainya itu adalah memusnahkannya
Dari setiap ruang di pikiran dimulai dari
Sekarang

cadangan bukan pecundang
saat nama terukir di atas kertas
dengan sebuah pernyataan di sampingya
bertuliskan cadangan
memang begitu menyakitkan

ibaratkan menunggu sebuah keputusan semu
jika tidak ada yang mundur maka majulah
terbebaslah kata cadangan itu
tapi, yang menyakitkan adalah
keputusan itu tidak ada kabar beritanya

lebih sakitnya lagi saat mendengar kata orang
bahwa cadangan itu sama dengan pecundang
yang tak pernah bisa mendapatkan apa-apa
hingga nyaris membuat putus asa

tapi berkat status cadangan itu mengubah
sebagian dunia orang-orang yang percaya
akan kuasa-Nya bahwa terkadang apa yang
telah digariskan memang yang terbaik

kata cadangan membuat sebagian orang bisa
melampaui kemampuan sebelumnya
pembuktian itu akan terlihat di masa depan
yang membuktikan siapa kita sesunggunhya










Kamis, 21 Januari 2016

LAGENDA PUTRI DARA NANTE

Lagenda Putri Dara Nante
Dahulu kala, lahir dan tumbulah seorang putri yang cantik jelita, sehingga ia diberi nama Dara Nante. Kecantikannya membuat orang-orang takjub apalagi ia terlahir dari keluarga bangsawan, yang kerajaannya bernama Sukadana. Di Istana Sukadanalah kehidupannya nyaris sempurna. Apa saja yang diinginkan Putri Dara Nante pasti akan terwujud. Tidak hanya cantik, ia juga memiliki hati yang sangat baik kepada semua orang. Hingga semua orang memandangnya dengan penuh kagum.

Di tempat nan jauh, yaitu Nanga Nyeri, hiduplah seorang pemuda bernama Babai Cinga, namun nasibnya sangatlah memprihatinkan, karena sakit yang diderita, membuat dirinya menjadi seorang pemuda buruk rupa, lalu ia pun diasingkan dari desanya. Hingga ia memutuskan untuk tinggal di bawah Bukit Entinyu yang jauh dari desa. Di sanalah ia merasa tenang, dan ia membuat dangau (rumah), dan ia pun melaman (tinggal di hutan) menanam sayur-sayuran. Karena tempat tinggalnya berdekatan dengan aliran sungai, mentimun yang sangat besar itu pun jatuh ke sungai tanpa sepengetahuan Babai Cingga.

Timun itu terus melaju bersama derasnya air, dengan kekuatan yang mengakar timun itu mampu menerjang derasnya arus yang hendak menghantam. Tanpa terasa timun itu mampu melaju meninggalkan, Sungai Entinyu, Sungai Sekayam menuju Sungai Kapuas, kemudian sampailah ia di Kerajaan Sukadana, dan terlihatlah oleh Putri Dara Nante, ia dan beberapa dayang-dayangnya berjalan menuju ke arah timun yang menyangkut di tiang istana yang berada di air. Putri Dara Nante pun mengambilnya, tanpa sengaja ia pun memakan buah mentimun itu sampai habis. Para dayang-dayangnya pun tercengang melihat kelakuan Putri Dara Nante.

Tersiarlah berita bahwa Putri Dara Nante memakan buah mentimun yang tidak jelas asal usulnya. Akhirnya banyak rakyat yang kagum padanya, berbalik mencaci di belakangnya. Karena berita itu sudah sampai ke telinganya, ia pun merasa bersalah atas kehilafanannya. Di depan semua orang ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi dan juga akan mencari siapa pemilik buah mentimun itu. Raja pun merestuinya untuk mencari keberadaan sang pemilik mentimun.

Berbekal informasi dari para pengawal yang telah menyelidiki asal mentimun itu yang berada di Nanga Nyeri, Putri Dara Nante dan beberapa dayang juga pengawalnya berlayar menyusuri Sungai Kapuas selama beberapa hari, kemudian berlayarlah mereka di sebuah sungai yang bernama sungai sekayam, lalu menyusuri sungai entabai. dengan memikul perasaan bersalah, Putri Dara Nante menyimpan janji, jika pemilik mentimun itu perempuan maka ia akan menjadi saudaranya, dan jika pemilik mentimun itu adalah seorang lelaki maka akan menjadi suaminya itulah yang ia katakana kepada orang-orang.

Tibalah mereka di desa bernama Nanga Nyeri, dan ia mengumpulakan orang-orang, untuk bertanya siapa yang menanam buah mentimun yang telah dimakannya. Tapi, tidak ada satu orang pun yang menanam timun yang dikatakan oleh Putri Dara Nante,

“Tidak mungkin, di antara kalian yang tidak menanam timun itu, apakah orang-orang di desa ini sudah tahu semua berita kedatanganku?”

“Ada satu orang yang belum datang ke sini, tapi tidak mungkin dia yang menanam timun itu!”

“Kalau begitu, tolong panggilkan orang itu!!!”

“Dia tinggal di dekat bukit Entinyu, lumayan jauh dari desa”

“Tidak mengapa, atau tunjukan di mana keberadaan orang itu, biar kami yang pergi ke sana”

Berkat informasi dari warga, Putri Dara Nante bersama dayang dan pengawal segera menghampiri kebenaran berita tersebut. Berjalan dengan menuju arah asap yang mengepul, akhirnya mereka melihat sebuah dangau (rumah kecil) di kaki bukit, terlihatlah sekelilingnya ada banyak sekali sayuran-sayuran yang memiliki ukuran jumbo dengan sungai yang mengalir tenang di samping tumbuhan itu. Putri Dara Nante pun baru mengerti dan yakin bahwa buah timun memang berasal dari tempat tersebut.

Terdengarlah suara batuk di dalam rumah tersebut. Putri Dara Nante pun menghampirinya.

“Permisi” sambil mengetuk pintunya

Keluarlah si Babai Cingga, terlihatlah sesosok pria yang buruk rupa juga berbau busuk, sampai-sampai para dayang dan pengawalnya pun menutup hidung mereka. Putri Dara Nante pun melihat sosok tersebut lalu ia tersenyum dan mengatakan maksud kedatangannya.

“Apakah tuan yang bernama Babai Cingga?”
“Ya saya sendiri, ada apa kalian ke sini? Bukankah kalian mengasingkan saya selama ini?”

“Tujuan kami datang ke sini sebenarnya adalah mencari pemilik buah mentimun yang saya temukan di tepian Istana Sukadana. Karena saya ingin meminta maaf telah lancang memakan buah mentimun tanpa seizin anda. Sebagai gantinya jika tuan berkenan, saya akan menunaikan janji saya pada semua orang. jika pemilik buah ini adalah seorang perempuan maka akan menjadi saudara saya, dan jika seorang laki-laki maka saya bersedia menikah dengannya”

“Apakah saya pantas menjadi pendamping hidup, seorang putri seperti nona? Bukannya saya menolak tetapi saya tidak merasa pantas saja”

“Tuan, saya tidak pernah melihat seseorang dari rupa maupun keturunannya. Saya sangat ikhlas menerima tuan, itu pun jika tuan berkenan menikah dengan saya”

Atas izin yang di Atas, Putri Dara Nante dan Babai Cingga pun menikah di desa tersebut. Dalam perjalanan pulang ke Kerajaan Sukadana, tiba-tiba Putri Dara Nante pun merasakan kelelahan hingga singgahlah rombongannya di suatu tempat, dan dengan ajaibnya seluruh Badan Babai Cingga bersinar hingga membuat semua orang kaget, melihat penyakit Babai Cingga telah sembuh. Putri Dara Nante pun takjub melihatnya, hingga ia memutuskan untuk mendirikan kerajaan di tempat tersebut dan diberilah nama Sanggau.

Di kerajaan Sanggau, Putri Dara Nante menjadi raja perempuan pertama yang memerintah kerajaan dan Babai Cingga menjadi temenggungnya. Mereka pun menjalankan roda pemerintahan dengan damai, juga melahirkan penerus yang tak kalah hebat seperti orang tuannya.

Hingga pada akhirnya Separuh hidup yang tersisa sangatlah bahagia bagi Putri Dara Nante dan Juga Babai Cingga.