Jumat, 12 Februari 2016

CERPEN: RASA SEMANIS COKLAT

Sinopsis
Rasa di atas segala rasa, Ia selalu hadir ketika diri berada di titik terendah dalam hidup, dan memiliki radar khusus tuk melihat ke dasar jiwa tuk menemukan kunci agar terbukanya pintu hati

Rasa Semanis Coklat

Lembut sekaligus manis terasa legit dan secara perlahan meleleh hingga potongan terakhir. Itulah coklat, membuat penikmatnya memjamkan mata meresapi belaian manisnya di lidah dengan bau khasnya, diiringi lantunan music sendu, hingga suasana seakan bersemi membentuk rasa senang. Tiba-tiba dari arah belakang “BLAK” bahuku dikejutkan, hampir mambuat jantungku lepas dari anggota tubuh.
“HANI, awas kamu ya, merusak suasana hati saja”
“Iya deh maaf, kamu tadi senyum-senyum sendiri kenapa? Lagi mikirin pangeran berkuda putih yang semanis coklat itu ya?”
“Ada-ada saja, kamu tahu kan malam itu saatnya orang-orang untuk merasakan ketenangan yang sesungguhnya, jadi inilah momen terbaikku dengan rasa kesukaanku, yaitu coklat yang berlapis coklat”
“Kok jadi beriklan deh, tapi ngomong-ngomong masih ingat tidak? sebulan yang lalu saat bulan januari, di hari pertama kita masuk kuliah di semester lima, rasa semanis coklat itu menyadarkan kita  ya???”
***
Aku masih ingat kok, saat itu adalah tanggal 1 januari, hari di mana para mahasiswa di kampus belajar seperti biasa. Berkumpul bersama teman membicarakan liburannya masing-masing saat di kampung halaman, sambil menunggu dosen seperti apa yang akan dihadapi di semester ini. Hari pertama kuliah sejak pagi hingga menjelang siang, tampak biasa-biasa saja. tapi, setelah mata kuliah terakhir usai, ketika hendak ke parkiran motor, aku dan hani terkejut melihat ada kantong hitam yang digantungkan di depan motor milikku,
“Han, itu apa?”
“Jangan-jangan bom lagi”
“Korban berita deh, ayo kamu yang ambil”
“Loh,loh kok jadi Hani. Nana dong. Nana kan yang punya motor”
Aku pun sedikit memberanikan diri membuka kantong hitam itu dan ternyata isinya adalah “SEPASASANG COKLAT” yang sangat menggugah batinku. Aku dan hani bertanya-tanya ini milik siapa.. Hampir satu parkiran kami tanyakan siapa yang punya tidak ada siapapun yang mengaku. Hingga akhirnya terpaksa coklat itu aku bawa pulang. Sepanjang jalan si Hani berandai-andai yang aneh hingga membuatku sedikit ingin muntah.
“Eh Na, jangan-jangan dia the secreet admirer . Kan coklatnya ada dua. Kalau dipikir-pikir tuh orangnya so sweet banget deh, kenapa jadi drama gini ya. Tapi gak mungkin deh dia menujukan coklatnya untuk dua orang, emangnya dia mau poligami, ih aku gak rela, dan tidak akan pernah rela. Pasti salah satu di antara kitalah yang kemungkinan menjadi bidadari idamannya.”
Aku pun tidak menghiraukan perkataan temanku yang sedikit dramatis ini, coklat itu kusimpan saja, siapa tahu si pemiliknya suatu hari kan muncul. Hari pun berlalu ke esokan harinya lagi, pagi-pagi kuparkirkan motorku di tempat yang sama, si hani ini orangnya tidak pernah diam, selalu brisik.
“kok pakai baju coklat, jangan-jangan terinspirasi dengan kejadian kemarin ya Na?”
“Males deh liat tampang menggodamu seperti itu, kamu kan tahu aku kan suka apa saja yang berhubungan dengan coklat”
“Oh, iya-ya, sepertinya hidupmu didominasi oleh warna coklat deh, setiap hari coklat melulu. Dari susu, baju, perna-pernik Sampai-sampai kamar aja di cat warna coklat, haduh, lama-lama kamu jadi wonder coklat deh Nana. Ya hani baru ngerti, jangan-jangan yang ngasi coklat itu suka sama kamu lagi”
“Apaan sih kamu Hani, dasar Miss Dramasiasasi. Emang ini seperti drama yang kamu tonton. Ini kehidupan nyata loh”
“ Emang seperti itu biasanya di film-film kalau ada yang ngasi kamu sesuatu pasti jadi LOVE, LOVE”
Aku jadi kepikiran dengan perkataan Hani waktu sampai di parkiran tadi. Sampai-sampai saat mata kuliah statistik saja hampir spidol melayang ke mukaku yang semanis coklat ini, karena melamun. ini semua gara-gara hani sang miss dramasisasi itu. setelah kami pulang, di parkiran terjadi lagi sebuah peristiwa saat kantong pelastik itu menjuntai di depan motorku. Oh apa ini, pikirku. Tidak hanya dua hari ini, tetapi ini terjadi hampir pertengahan tanggal di bulan januari, tanpa absen.
Tibalah, di penghujung Januari tepatnya tanggal 30. Ada secarik kertas berwarna coklat, bertuliskan

Dear Nana
Assalamualaikum, Misteri hati yang selama ini kusembunyikan darimu, lewat dua pasang coklat itu sebenarnya inginku sampaikan secara langsung, tapi daku ingin sesuatu yang berbeda, semoga apa yang daku lakukan bisa meluluhkan hatimu, dan kini tibalah saatnya daku ingin menunjukan siapa sebenarnya daku, kuharap dikau datang di bawah pohon di belakang kampus kita, terima kasih.

“Ya ampun, manisnya kata-kata pakai daku-daku lagi, mirip surat cinta 80-an, kan benar ini orang sukanya sama kamu Nana. Tapi kamu kan janji tidak akan menjalin hubungan cinta-cintaan itu selama kuliah. Apa kamu akan menjilat ludahmu sendiri?
Aku hanya terdiam dan berlalu di hadapan Hani. Sambil membawa surat itu. lama kuberpikir hingga tiba waktunya isya berkumandang, kubasahi diri dengan aliran air wudu, dan sujudku lakukan dengan sepenuh hati, hingga akhirnya kutengadahkan tangan memohon petunjuk darinya sampai meneteskan air mata, dan aku bertanya apakah ini ujian atas istiqamahku selama ini, atau ini memang sudah tiba jodohku. Dalam setiap tarikan nafas yang kuhembuskan saat menyebut nama-Nya terasa manis, semanis coklat yang tiada candu di dalamnya, kemurnian rasa yang tercipta dari khusu.
Tibalah saatnya benar-benar di penghujung tanggal, 31 Januari, hari yang membuatku harus memutuskan.
“Udah tahajud belum semalam? Sepertinya kamu cemas atau tidak sabaran melihat orangnya, katanya mau ketemuan di sini, mana orangnya, kok banyak sekali orang yang berlalu lalang di sini, kiraain tempanya sunyi, habis kita jarang di sni kan Na? ups lupa kamu kan lagi binggung maaf ya ngomong terus dari tadi.”
Aku hanya diam menunggu cemas, siapa orang yang selama ini menggantungkan coklat di motor. Tanpa memperdulikan si mulut comel Hani itu.
“Itu ada cowok, itu kan Arif, tapi kok iya balik lagi, atau si Bima dia sepertinya mau ke sini”
Tiba-tiba dari arah belakang, angin tampak melayang-layangkan daun-daun kering hingga jatuh mengenai sesosok lelaki berparas tinggi semampai itu ketika kami membalikan badan. Dan aku terkejut bukan main. Lalu berkata
“Assalamualaikum ya ukhti?”
“HAKIKI” mataku melotot bukan main, melihat cowok populer yang terkenal dengan IQ tingkat tinggi, dengan retorika yang super itu, yang menjadi pengemar rahasiaku selama ini.
“Ternyata ikhwan kacamata itu yang jadi pengagum rahasiamu selama ini Na” Hani berbisik perlahan padaku.
Sebenarnya aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Tak menyangka ia memang seperti pangeran berkuda putih yang semanis coklat yang kuidam-idamkan selama ini, tapi tak kusangka dibalik kehebatannya itu kenapa ia memilih menjalin hubungan seperti ini dengan seorang perempuan. Aku lagi, apa hebatnya hanyalah gadis biasa yang selalu sembunyi di balik buku-buku novel romantis dan ilmu agama pas-pasan.
“Pasti Nana sudah tahu maksud kedatangan saya. Saya berharap kita bisa saling mengenal seperti layaknya pasangan lainnya”
Lama ku terdiam tak bicara, hanya menunduk, hingga Hani pun mengagetkanku untuk berbicara kepadanya.
“Sebenarnya ki, kalau boleh mengakui caramu menyampaikan rasa itu memang semanis coklat, awalnya memang diri ini menyukai dirimu sama seperti yang lainnya, tapi kurasa caramu tidak tepat dalam menafsirkan cinta itu. Cinta itu tidak hanya sebatas coklat, jika kita berjodoh masa depan yang akan membuktikannya, maaf ini keputusanku Ki, ayo pergi Han” aku pun megang tangan Hani dan berlalu di hadapannya
“Nikmat mana yang telah kudustakan, Nana? Saya memang begitu menghargai rasa cinta itu, menahan perasaan ini selama ini, apa diri ini harus berdusta selamannya. Rasa cinta yang kurasakan ini melebihi manisnya coklat dan sangat tulus, kau harus tahu itu”
Aku berhenti mendengar perkataannya seperti itu, dan aku hanya terdiam terpaku dan aku pun menghela nafas mengumpulkan energy tuk menghadapinya.
“Kamu harus tahu, rasa yang paling istimewa, rasa di atas segala rasa memanglah cinta, tapi kita lupa bahwa sang pemilik cinta yang sesunggunya adalah ALLAH. Selamanya rasa semanis coklat akan diberikannya kepada insan yang mau menjalankan syariatnya dengan benar, maka jangan pernah mendustai nikmat yang telah diberikan-Nya.”
“Apakah kamu tidak akan menerimaku seperti yang kuinginkan?”
“Yah, memang dirimu sangat menawan, tapi diri ini tak akan membiarkan ikhwan sepertimu ternodai dari penafsiran cinta yang salah. Masalah hati, tak akan mudah dibuka begitu saja ia butuh pembuktian dan usaha demi membuka pintu hati yang terkunci rapat saat ini, dan akan terbuka pada saat yang tepat. Assalamulaikum ya Akhi”
Aku pergi pergi bergegas di parkiran, takutnya ia akan mengejarku seperti di drama-drama itu. Hingga kubergegas menyalakan motor dan berlalu bersama Hani.
“Ya ampun Na, puitis sekali kata-kata mu tadi. Daku sampai meletakan tangan di pipi loh, kamu yakin dengan keputusanmu itu”
“Jika dia sungguh-sungguh dan bisa berusaha membuka hati pintu hatiku di masa depan kelak, mungkin iya”
***
“Na, na. hei kok ngelamun paki senyum-senyum aneh lagi. Hani mau pinjam catatan statistinya kan mau belajar, besok ujian hehehe”




Minggu, 07 Februari 2016

pusi minggu

Antara hijrah dan istiqamah
Ketika dua kata itu disandingkan
Ada gelisah yang berkecamuk
Dalam hati, yang tak bisa dimengerti
Hijrah selalu menawarkan jutaan
Kesyahduan yang menjuntai
Pada tali-tali jiwa yang mampu istiqamah
Namun, terkadang keteguahan hati
Diuji ketika memutuskan untuk pindah
Orang bilang ada indah di setiap pindah
Kenyataannya adalah tak semulus bayangan
Untuk menunju puncak istiqamah hati
Seperti tampak tertatih, hingga semuanya
Terasa melelahkan

Geram
Rupa merona kemerahan
Memancarkan geram
Hati pun meronta
Berdemo geram
Raga seakan mati rasa
Geram tanpa suara
Berharap kekuatan abracadabra muncul
Menepis rasa geram
Genggaman rasanya ingin menghentikan
Hingga geram segera pergi
Sorakan itu seperti menggema
Mengularkan kemampuan kegeramanku

Oh senja
Sebenarnya ingin kutliskan
Pesonamu yang tampak indah
Namun saat kunanti sore tiba
Jejakmu tak bisa kulihat dilangit
Hanyalah tampak langit buram
Bercampur gelap,
Oh senja dimana kau kini
Yang selalu mengundangku
Tuk menenmukanmu di tempat
Terindah hingga pesonamu tampak nyata
Di saat aku berada di tempat yang tepat
Senja tak pernah mengizinkan ku tuk
Melihat prosesnya hingga membentuk
Lembayung sutra di angkasa
Oh senja suatu hari nanti kau kan tampak indah
Di tempat yang tepat di masa depan



Selasa, 02 Februari 2016

Kasih Berbalut Rindu

Kasih Berbalut Rindu
Tali kasih yang tak akan pernah putus sepanjang masa adalah keluarga, tanpa mereka  kita tak akan pernah menjadi apa-apa. Di saat kita berada jauh dari mereka, barulah menyadari bahwa rindu itu selalu beremayam dalam hati. suasana rindu itu, memang bisa diobati dengan menelepon tapi kurasa itu tak cukup. Tak ada penawar yang mampu menolak rindu selain menggambarkan orang terkasih. umak, apak, adek, neng rinuk kitak.

Umak
Umak adalah sesosok makhluk paling indah yang bisa berubah-rubah tergantung suasana hatinya. Kesederhanaan yang selalu beliau ajarkan, membuatku semakin rindu dan ingin memeluknya, mendengar suaranya lewat telepon saja membuat rasa ini seperti sangat-sangat merindukannya. Aku benar-benar merasakan kasih sayang dari umak adalah saat aku berada jauh darinya. Walaupun dulu ketika masih sekolah umak tak pernah absen mengomeliku, karena sering terlambat bangun pagi, kemudian juga mengomeliku karena suka menonton drama korea. Setelah berada jauh darinya barulah benar-benar merasakan hidup mandiri. Selain rindu omelan umak, aku juga rindu dengan masakan umak, aroma ayam kecap dan rebung asam pedas yang membuat melting. Neng tahu umak pasti berat melepas neng pergi jauh, kegagalan yang dialami memang umak kurang merestui eneng kuliah di luar Kalimantan. Tapi eneng akan buktikan pilihan neng kuliah dan merantau adalah untuk menjadi anak yang bisa membahagiakan orang tua.

Apak
Apak adalah lelaki terhebat di seluruh jagad raya ini. Apak kurindu belaian tanganmu di atas kepalaku dan saat engkau sering memencet hidungku. Kurindu saat apak selalu ada di saat raga ini selalu merasa gelisah dan juga mendekati kata putus asa, bahunya selalu siap menopang kepala dan membiarkan diri untuk menceritakan keluh kesah yang terjadi. Apak kurindu senyummu yang tulus kepada siapa saja. Di saat apak menelepon dan mengatakan “Belajar benar-benar dan jangan terlalu banyak berpikir yang macam-macam” membuatku ingin meneteskan air mata dan apak rasanya detik ini kuingin memelukmu erat. Kutahu betapa berat tanggung jawabmu sebagai seorang ayah, tapi aku salut denganya yang tak pernah memperlihatkan lelah dan sedihnya kepada anak-anaknya. Kepercayaan yang apak tanamkan padaku, insyaAllah tak akan kukecewakan. Apak adalah sosok lelaki penyebar sedunia yang pernah kukenal. Maka izinkan anakmu ini untuk membalas setiap keringat yang berikan untuk anakmu ini di masa depan nanti.

Adek
Adek adalah makhluk paling mungil di keluarga kami yang berjenis kelamin perempuan. Usianya terpaut tujuh tahun dariku. Hal yang kurindukan darinya adalah berebut remote tivi karena kami tidak pernah akur dan satu visi saat menonton tivi, adek sukanya nonton kartun akunya suka nonton drama korea bentrok jadinya dan tak jarang menimbulkan korban merajuk antara aku atau dia, juga menjahili dirinya hingga menangis adalah kesenangan ku dulu pada saat masih sekolah. Rindu juga di saat mengerjakan PR bersama-sama, juga saat mengantarkannya di depan gerbang sekolah. Dulu kami sempat mengira adek hidupnya tidak lama lagi, dikarenakan pada saat itu lagi heboh-hebohnya penyakit demam berdarah. Selama berbulan-bulan adek terbaring di rumah sakit Sanggau  kondisinya sudah pada tahap kritis. Pada saat itulah diriku merasa kehilangan sosok adek, saat itu juga aku berjanji akan selalu menyayanginya dan tak pernah menjahilinya. Sekarang ia sudah mulai beranjak remaja dan ia selalu menanti kedatanganku di rumah. Adek tunggu ya, neng akan pulang dan menceritakan  buanyaaak hal


Senin, 01 Februari 2016

LOVE STORY IN MY CLASS

LOVE STORY IN MY CLASS

Ditemani dengan pop mie, terasa cocok untuk menemani saat hujan, juga menemaniku menuangkan sekelumit kisah hari ini. Topik tentang pasangan hidup tampaknya sedang booming-boomingnya di kelas, apalagi kalau udah mata kuliah fiqih, pasti pertanyaannya terkadang menyimpang masalah seputar pernikahan. Jika sudah ,membahas hal tersebut kelas menjadi hidup, yang ngantuk setengah hati jadi melek sepenuh hati, tertawa sambil senyum-senyum tak jelas saat mendengar penejelasan dosen.

Ada lagi ketika dosen masuk melihat kelangkaan lelaki di kelas, mengatakan dunia itu memang sudah tampak jelas tanda-tanda kiamatnya di kelas ini, laki-lakinya aja tinggal 5 orang, oh no, terus beliau bilang buat para cewek-cewek harus siap-siap dimadu, oh gak kebayang apa jadinya nanti. Teori poligami sepertinya sudah meracuni sebagian pikiran orang-orang di kelas, sehingga mendoktrin semau hatinya, cieh bahasaku berat amat dah.

Permasalahannya adalah kenapa seseorang yang single seperti diharamkan di kelas, sampai-sampai ada yang bertanya kamu maunya yang seperti apa nanti aku carikan. Mirisnya nasib. Terus pakai acara dijodoh-jodohin lagi, sekarang bukan zamannya siti nurbaya lagi ya. Apalagi di setiap kesempatan selalu menggoda tak jelas, terkadang risih juga sih ngeliatnya.

Bagi sebagian orang untuk berkomitmen bukanlah hal yang biasa, karena ia memandangnya begitu istimewa sehingga ia menunggu waktu yang tepat sambil memperbaiki dirinya untuk menunggu masa itu. Memang cinta yang ditawarkan dalam bentuk pacaran tampak seperti menggugah, tapi sayangnya tak semua orang menginginkan cinta semacam itu, cinta adalah sebuah rasa yang patut dihormati, tanpa ternodai sedikit pun dengan cinta yang semu itu.

cinta memang terlihat manis di awal, tapi terkadang ada sebuah akhir yang menyakitkan. Contohnya saja ada orang yang pacaran selama 7 tahun dari sma sampai kuliah, udah kenal sama keluarga terus putus begitu saja di tahun ke-7nya, gak mau deh kejadian tersebut terjadi pada diri, semoga saja dijauhkan amin.



Sabtu, 30 Januari 2016

PUISI TENTANG HUJAN

Sore di bulan Januari, terasa aneh jika tak ada hujan. Meski senja tak terlihat indah karena pesona lembayungnya, hujan juga membawa romantisme bagi yang memaknainya dengan sepenuh hati. ketika pertanda hujan mulai dirasakan setiap orang sibuk dengan argumennya masing-masing ada yang bergegas ngebut-ngebutan, ada yang memasangkan jas hujan, tapi aku saat hujan itu turun, mengingatkan pada masa kecil yang tertawa bahagia menari diiringi rintik-rintik hujan kesana- kemari karena begitu senangnya terhadap hujan. Kini, hanyalah bisa menunggu ia reda, barulah pergi, dan hujan akan membawa kisah, yang terkadang membuat kita tersenyum tiada dusta di dalamnya karena this a moment imposible tobe possible, and so imprsive, guys, finaly you can try!!!!!!!!!!



Bait-bait hujan
Tanpa sadar pandangan berada
Di antara rintik-rintik hujan
Menjelma menjadi bait-bait
Keindahan mengalun berdesir
Hingga jatuh ke dasar hati

Berdiri menghadap bait-bait hujan
Terasa istimewa sepanjang hari
Karena pesonamu sempat menahanku
Sejenak tuk memandangmu takjub
Membiarkan setiap detiknya  mengalir
Bersama bibir yang tersenyum simpul

Hanya saja di antara bait-bait hujan itu
Tuk Menggapai kemewahan yang dialirkan
Terasa tak mungkin, karena perlu menghitungnya
Butuh energi sekuat hati tuk menghadapinya

Memandangimu saja adalah bahagiaku
Tak perlu jejak tuk mengenangmu
Walaupun tak akan bisa menjadi bagian
Bait-bait hujan yang menggema
Cukup dengan dua bola mata menjadi saksi
Keberadaanmu

Berkelana dalam hujan
Kaki seakan berjalan tak tentu arah
Waktu seakan membisu
Gemuruh hati seakan memuncak
Gema hati pun seakan pecah

Untuk apa menanti mendung
Jika Angin kan sampaikan pesan
Walau hati berkelana mencari celah
Yang masih tersisa di antara rintiknya

Butir-butir beningnya hujan
seperti layaknya senandung
Yang bergemuruh direlung hati
Yang masih berkelana mencari
muara daripada rasa

hati dan raga seperti diadu
tuk menemukan siapa pemenang
yang kan berwujud pada rasa
yang tampak nantinya


Antara aku, kau, dan hujan
Aku berhenti sejenak
Saat gejala bergejolak
Mendatangkan suara rintik
Membuat semua terhentak

Suara berirama menyulam hujan
Membiaskan dinding dengan rintikan
Hanya tiang yang menjadi sandaran
Melabuhkan rasa untuk menunggu

Kau, bersama Biasmu tampak diseberang
Sambil bersandar di samping tiang
Membawa semilir tanda Tanya
Ketika tatapan menghiasi pandangan

Kau, hadir kembali saat lupa nyaris sempurna
Keadaan seakan meluluhkan kenyataan
Kau seperti rintik yang terasa menari-nari
Dalam hati, hingga terbuai suasana

Hujan menjadi tirai pembatas antara kau dan aku
Hujan juga siap menghempas rasa tuk menggapainya
Hujan akan mendatangkan seribu kemungkinan
Hanya keheningan hati menjadi penawar di antara rintik
Tuk menghibur rasa terlanjur basah oleh hujan
Dalam batin yang pernah berkecamuk karenamu











Selasa, 26 Januari 2016

BUJANG KERAMAT

BUJANG KERAMAT

VERSI BAHASA MELAYU SANGGAU

Ujan pangkar kilat, di antong benama Balai Karangan. Pas di kampong nyak ada orang yang agik nganong bungas, pas gak ujan kilat nya nyak beranak, suara umak ah ajom kedinga gosak ujan, dukun beranak pun nulong umak ah noran anak ah nyak. Apak ah pun ada di siak, ngeliat bini ah pangkas ngis, ngerising noran anak ah nyak tepansut. Saking takut apak, ah pun kili-kulu bejalan begogar ngeliat ah. Beropai jam kemudian umak ah pun tediam dari pangkas ngis, pas kilat pun nyamar umak ah diserota dengan bunyi Guntur kuat. Ajom di sangka-sangka anak ah pun laher lelaki, tapi pina lama lagi ada keluar anak biak, sampai 3 kali, tapi mada sik suara ah, dukun beranak dengan apak ah pun aneh ngeliat ah.
Apak ah pun nyak netes aik mata ah ngeliat anak ah mati semua, di tongah suasana sedih, pangkar kilat tamak ke kamar, nyamar umak ah, tedingalah suara nangis anak biak, semua idak di siak kerayak ngeliat ah.
“Alhamdulilah, o abang laher anak kau tih, lelaki agik upa ah.”
“Ngih Ce’, situ kula migang nyak ngazankan”
Apak ah pun ngamik anak biak nyak lalu, liat ah “Ce’ ngapai anak biak tuk mada bunyi ah agik upa ah,” dilat ah somak-somak, tiba-tiba PLAK. Anak biak nyak nerajang muka apak ah samel ketawa “Ngapai tih bang, tejatu” anak biak tu tih nerajang kula pakai kaki ah, kuat ah gak ikau nak, bela menyadik kau ningal, ikau senirik jak yang betuah, apak muri nama ikau BUJANG KERAMAT”
Betaun-taun belalu, Bujang Keramat pun jadi anak bujang, malar nyantai di kayu’ ara somak aik Sekayam, dari kocik sampai bosar enya dengan kawan-kawan ah tuju nyantai di kayu’ ara, samel ngael gak.  udah belajar ngaji, masih lengkap kopeah di atas kepala, sarong yang diselempang, idak ah bejalan ke aik Sekayam ngabas pukat dengan kael. Urang-urang tuju dengan bujang keramat gosak budi pekerti ah.
Macam biasa Bujang Keramat pun ke aik Sekayam nyantai di kayu’ ara, lalu ada urang nanyong yang beperahu di aik, urang tua nyak ah mawa lelaki urang penatang. Jaman ah pun somak dengan kayu’ ara nyak, urang tua yang nanyong tih masih di atas perahu minta tulong dengan sidak ah.
“O , segela urang bujang, dari pada kitak mada polah bagus nulong pak ngah kau tuk ngobat tali perahu”
Idak ah pun nulong urang tua nyak ah, ngobat tali di jaman,
“Saja nak mati melayu ah nok gaya kita tuk, ngobat nyak pun nak mati lama ah”
“O,  pak ngah, masih beruntong dak kula mau nulong ngobat tali tuk ah, kami memang urang melayu, tapi asal pak ngah tau, ajom semua urang melayu nyak kelalah, biar kami tuk cuman petani, cuman cukup pakai makan jak, yang penting halal, kami urang melayu tuk ajom tamak harta pak ngah, emang pak ngah urang penatang, tau cakap melayu upa ah?”
“Terserah kita lah, yo tuan kita ke sana aja, malas saya nak beladen dengan sidak-sidak ni” urang tua nyak pun mawa urang penatang nyak pogi
“O, bujang aku curiga dengan sidak inang-inang ada burok empodu’ ah”
Pina lama, kecurigaan sidak ah pun bonar, urang penatang nyak, nyak enjajah Balai, nyak nguasai. Urang balai pun diiming-iming duet banyak teros, banyak kayu’ durian ditobang, dijadi ah papan pakai molah rumah.
Bujang pun naik pitam, ninga kampong, di jajah macam nyak. Nya pun bepiker, kalau di kampong ah mada sik agik durian, bearti durian paling nyaman mada sik agik di dunia tuk. Nya pun nyusun rencana. Dengan kekuatan kobal ah, tapi mada sik yang tau, bujang keramat nanam buah durian yang abis di tobang, secopat kilat. Urang kampong pun geger ngeliat kejadian nyak ah. Urang penatang yang burok empodu ah dengan pak ngah tih pun tekojut ngeliat durian yang di tobang tau tumuh bosar agik. Durian ajom sigik jenis agik,  bemacam-macam jenis ada yang upa emas, tembaga, ada yang mesik biji ah.
Urang kampong bekerumun ngeliat  segala kebon-kebon durian yang keramat nyak ah. Ajom disangka-sangka kedinga di kayu’ durian suara ngomong.
“Oy bela manusia, inang kitak mudah kona penagaruh urang-urang yang nyak ngerusak utan. Bela durian yang bemacam-macam nyak sebagai ganti, teros peringatan bagi kita supaya inang sama sekali ngerusak utan”
“Ngih Uju kayu’. Kami bole agik nerima urang yang beniat nyak ngerusak utan”
Bela urang-urang pu sadar dan bole agik nyual tanah apai agik nyual kebon durian ah. Sidak ah pun pulang ke rumah ah senirik-senirik bubar dari kerumun. Di atas kayu’ durian yang agik bebuah, Bujang pun dudok di dahan kayu’ ah, dipangkal ah buah durian nyak, samel kaki ah tejuntai ke bawah.  Pina lama, apak bujang keramat tekiak-kiak nyari anak ah. Apak ah pun ngenua’ ke atas lalu
“Di siak upa ikau nok, inang-inang ikau yang ngila bela urang tadi tih???”
“Hehehe, auk pak”
“BUUUUUUUUJAAAAAAAAAANG KERAMAT”

VERSI INDONESIA

BUJANG KERAMAT

Hujan di sertai petir dan kilat menyambar tempat bernama Balai Karangan. Di tempat itu kebetulan ada orang yang lagi mengandung anak pertama. Saat hujan disertai petir dan kilat itu ia pun hendak melahirkan. Suara sang ibu tidak terdengar karena hujan yang begitu deras. Dukun beranak pun membantu melahirkan anaknya. Sang ayah pun ada di situ, melihat isterinya yang lagi menangis meringis, hendak mengeluarkan anaknya. Saking takutnya sang ayah pun berjalan kesana-kemari, dengan bergetar. Beberapa saat kemudian sang ibu pun terdiam dari teriakannya, kilat pun sempat menyambar sang ibu, dan tak disangka-sangka sang anak pun lahir lelaki, tapi tidak lama kemudian terlahir lagi bayi hingga 3 kali berturut-turut, anehnya ketiga-tiga bayi itu tidak bersuara, dukun beranak dan ayahnya menatap aneh.
Sang ayah sempat meneteskan air mata melihat anaknya meninggal semua. Di tengah suasana sedih itu, petir disertai kilat masuk ke dalam kamar menyambar sang ibu, lalu tedengarlah suara sang anak, mereka semua pun kaget melihatnya.
“Alhamdulillah, o Abang lahir juga anakmu lelaki lagi sepertinya” kata si dukun beranak
                “Ya Ce’, bawa sini saya akan mengazankan”
Sang ayah pun memangku sang anak, lalu dilihatnya “ Ce, kenapa anak ini tidak ada suaranya” sang ayah pun melihat lebih dekat, tidak lama kemudian PLAK, sang anak itu menendang wajah sang ayah sambil tertawa girang. (kenapa kamu terjatuh bang?”, “Anak ini tadi menendang saya, pakai kakinya, kuat juga kamu ya nak, saudaramu yang lain meninggal, kamu sendiri saja yang beruntung dan kuat, ayah beri kamu nama BUJANG KERAMAT”
Tahun demi tahun berlalu, Bujang Keramat pun menjadi anak remaja yang suka bersantai di pohon Ara di dekat sungai Sekayam. dari kecil hingga besar, ia bersama teman-temannya suka bersantai di atas pohon ara tersebut. selesai belajar mengaji, masih lengkap kopiah di atas kepala, sarung yang diselempangkan, mereka berjalan menuju sungai sekayam mengunjungi jerat pukat dan juga pancingan. Orang-orang pun suka dengan bujang keramat karena budi pekertinya.
Seperti biasa Bujang Keramat pun bersantai di atas pohon ara dekat dengan sungai sekayam. tak lama kemudian ada orang yang berjualan dengan menggunakan perahu membawa lelaki pendatang, jamban nya pun dengan pohon ara. Orang tua yang berjualan tadi pun meminta tolong kepada mereka.
“ Para orang bujang, daripada tidak ada kerjaan,  lebih baik membantu pak ngah mengikatkan tali perahu ini di jamban!”             

mereka pun menolong orang tua itu, mengikatkan tali perahu ke jamban.
“Ya ampun, melayu sekali kalian ini, mengikat tali saja lama sekali”
“O, pak ngah, masih beruntung kami bantu mengikatkan tali ini, kami memang orang melayu, tapi asal pak ngah tahu, tidak semua orang melayu itu pemalas, biarpun kami hanya petani, hanya cukup makan saja, yang penting halal, kami orang melayu tidak tamak akan harta, pak ngah!, bukannya pak ngah juga orang melayu? Sepertinya bisa berbahasa melayu”
                “Terserah kalian saja, ayo tuan kita ke sana saja, malas rasanya bertengkar dengan mereka ini” pak ngah pun membawa orang pendatang itu pergi”
“Bujang aku curiga dengan mereka, jangan-jangan mereka hendak berniat jahat”
Tidak lama kemudian, kecurigaan mereka pun benar, orang pendatang itu ingin Menjajah Balai Karangan. Orang kampong pun diimingi uang yang banyak kemudian banyak pohon durian ditebang, dijadikan papan untuk membuat rumah.
Bujang Keramat pun naik darah, mendengar kampunya dijajah orang seperti itu. dia pun berpikir, kalau di kampongnya tidak ada durian lagi, berarti tidak ada lagi durian terenak di bumi ini. dia pun menyusun rencana. Dengan kekuatan kobal (super), tetapi tidak ada yang tahu, bujang keramat menanam buah durian, di tempat yang habis ditebang pohonnya, ia menanamnya secepat kilat. Orang kampong pun heboh melihat kejadian itu. orang pendatang dan pak ngah pun terkejut melihat pohon yang baru ditebang bisa tumbuh lagi dan duriannya tidak hanya satu jenis melainkan berbagai macam jenis,ada yang seperti emas, tembaga, bahkan ada yang tidak ada bijinya ketika dimakan.
Orang kampong berkumpul melihat kebun-kebun durian yang keramat. Tak disangka-sangka durian itu pun berbicara.
”Hai manusia, jangan kalian mudah terpengaruh orang-orang yang hendak merusak hutan. Durian yang ada itu sebagai pengganti, dan peringatan bagi kalian jang sampai merusak hutan”
Orang-orang pun tersadar dan tidak lagi menjual tanah apalagi menjual kebun duriannya. Mereka kemudian bubar pulang ke rumah masing-masing.  Di atas pohon durian yang sedang berbuah, bujang duduk di ranting yang besar sambil mebelah buah durian, dengan kaki yang berjuntai ke bawah. Tidak lama kemudia sang ayah pun berteriak-teriak mencari bujang. Sang ayah pun melihat ke atas, lalu
“Di situ kamu rupanya bujang, jangan-jangan kamu yang pura-pura jadi pohon yang bisa ngomong itu ya?”

“Hehehe, iya pak”
“BUUUUUUUUUUUUJAAAAAAAAAAAANG KERAMAT”





Jumat, 22 Januari 2016

my poem


Ketika lelah mulai menyapa
Lelah nalar ini harus berpikir keras
Demi mencari sebuah petunjuk
Yang berujung pada sakit yang membekas
Karena keadaan seperti berbalik

Berbagai keraguan datang
Tanpa permisi hadir di pikiran
Hingga hati terasa bimbang
Tak berdaya merelakan

Atas semua yang telah terjadi
Seluruh raga ini terasa lelah
Ketika segalanya seperti badai
Menghantam hati dalam resah

Saat itulah lelah mulai menyapa
Hari-hariku dengan menyiksa
Membiarkan hati binasa
Sampai ke dasar samudera


Tertaih dalam harapan
Membangkitkan kenangan
Sama saja dengan mengulang
Duka yang telah lama bersarang
Yang tak sudi tuk dijamah lagi

Perubahan zaman tak sepenuhnya
Membawa keindahan pada hidup
Untuk membangun kembali
Harapan-harapan di masa lalu

Harapan itu memang menawarkan
Berjuta-juta keindahan
Tapi, dalam menggapainya
Raga ini tertatih-tatih

Partikel-partikel badai datang
Menguji diri dari awal hingga
Pertengahan jalan menuju
Harapan itu

Dalam rasa yang tertatih ini
Terselip keinginan tuk bisa
Mencapai akhir yang
Membahagiakan

Seandainya
Kata seaindainya tak kan ada habisnya
Hadir tuk menghiasi kata yang terucap
Kata yang hanya membawa semilir angan
Lalu membatasi orang pada kata cukup

Jika banyak kata seandainya yang terucap
Maka bersiaplah mengikhlaskan mimpi-mimpi
Menjadi sebuah kenangan yang tak pernah tergapai
Sebab dibalik kata seandainya menyimpan
Makna menyerah

Lihatlah ketika kita berucap
Seandaianya
Seandainya
Seandainya
Pada akhirnya berujung pada pemikiran
Tidak mungkin bisa

Hanya ada satu kekuatan untuk melawan
Kata seandainya itu adalah memusnahkannya
Dari setiap ruang di pikiran dimulai dari
Sekarang

cadangan bukan pecundang
saat nama terukir di atas kertas
dengan sebuah pernyataan di sampingya
bertuliskan cadangan
memang begitu menyakitkan

ibaratkan menunggu sebuah keputusan semu
jika tidak ada yang mundur maka majulah
terbebaslah kata cadangan itu
tapi, yang menyakitkan adalah
keputusan itu tidak ada kabar beritanya

lebih sakitnya lagi saat mendengar kata orang
bahwa cadangan itu sama dengan pecundang
yang tak pernah bisa mendapatkan apa-apa
hingga nyaris membuat putus asa

tapi berkat status cadangan itu mengubah
sebagian dunia orang-orang yang percaya
akan kuasa-Nya bahwa terkadang apa yang
telah digariskan memang yang terbaik

kata cadangan membuat sebagian orang bisa
melampaui kemampuan sebelumnya
pembuktian itu akan terlihat di masa depan
yang membuktikan siapa kita sesunggunhya