Kamis, 28 April 2016

ADA SENDU DI MATA AYA

foto by maya fatmawati

Ada Sendu Di Mata Aya
Seribu kunang-kunang membawa kabar dengan semilir angin yang berhembus lalu pergi begitu saja. Hingga ia berlari mengejar segerombolan kunang-kunang itu tuk menanyakan pesan yang berlalu secara perlahan.
“Ayaaaaaaaaaaaaaa, kamu mau ke mana nak?”
“Aya ingin menangkap kunang-kunang itu bu!”
“mana ada siang bolong kunang-kunang aya, sudah masuk ke dalam”
Aya kecil begitu senang bertindak sesuai dengan instingnya. Bertingkah layaknya anak-anak, tapi memilki imajinasi yang sangat tinggi hingga terkadang membuat orang di sekitarnya tidak percaya padanya. Nasib menyambut baik atas khayalannya tentang keindahan di sekitar yang  membuat orang tercengang. Sekelilingnya terdapat para manula yang sedang memegang kuas mengukir keindahan di atas kanvas, dunianya seakan berputar-putar.
“Aya ayo jalan”
Aya terpaku di jalan itu dan tak memperdulikan apa yang ibunya omongkan
“Aya” ibunya yang sebenarnya ingin marah jadi terdiam melihatnya
“Bu, aya ingin seperti yang kakek itu lakukan”
Di antara para manula itu ada yang mendengar perkataan aya
“Nak kamu mau seperti kakek? Pegang kuas ini terus kamu ikuti apa yang ada di gambar ini” sambil ia memberikan kertas kepada si Aya.
Aya pun langsung menyambut niat baik sang manula itu. Ibunya tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia membiarkan dan menunggu anaknya sampai selesai untuk menggambar.
“Kek kalau sudah besar nanti, aku inginnya seperti kakek menggambar seperti ini” Aya pun menunjuk-nunjuk gambar si kakek
“Iya nak, semoga saja kelak keiinginanmu akan terwujud, tapi kamu harus tahu nak jangan sampai keinginanmu itu akan meracuni dan membuat hidupmu jadi susah ya, karena hal itu pasti akan terjadi”
“Maksudnya kek” aya kecil tak mengerti perkatannya dan si kakek pun hanya tersenyum kecil
***
Tangan perlahan mengukir indah di atas kanvas putih, sambil menerawang dengan insting yang ada. Aya pun menggulung rambutnya mulai untuk berfokus menyelesaikan lukisan saat waktu telah mendekati selesai. Dentingan suara lonceng pun berbunyi pertanda perlombaan itu selesai. Semua peserta pun mengangkat tangan dan berdiri di samping lukisan. Sang juri pun berkeliling menilai satu persatu lukisan si peserta. Tidak perlu menunggu lama, Aya sudah tahu bahwa lukisannya cukup mencuri perhatian para juri. Pengalaman yang membawanya menjadi seorang pelukis lomba yang tak diragukan lagi. Setiap habis lomba ia selalu membawa pulang piala dan menyimpannya di dalam lemari yang hampir tidak cukup lagi.
“Aya, ayahmu sakit nak, dia sekarang di rumah sakit” ibunya memberitahukan hal itu, saat Aya sedang merasa berada di puncak-puncak kemenangan. Kepulangannya ke rumah menyisakan duka di hati dan Aya pun terkejut mendengar hal itu. mereka bergegas pergi ke rumah sakit.
“Ayah, ini aya, maafkan yah, Aya terlalu sibuk sampai-sampai tidak tahu kabar ini.” Aya langsung memeluk sang ayah
“Aya, ini semua gara-gara kamu, ayah sampai sakit begini, dia memikirkanmu nak, kamu membangkang sekali keinginan ayahmu. Sekali-kali berbakti dengerin omongan orang tua jangan jadi pelukis itu saja sudah melegakan kami nak” ibunya pun marah kepada ayah
“Nak, ayah hargai keputusanmu untuk jadi pelukis. Tapi setiap kamu pulang membawa piala ke rumah membuat ayah merasa bersalah kepada Allah karena tidak bisa memberikan kamu pemahaman bahwa melukisitu tidak boleh nak”
“Kenapa yah, separuh hidup Aya sudah berada di dunia itu selama 20 tahun, Aya berlatih dan mengikuti lomba ayah tidak pernah mengucapkan selamat dan ayah juga tidak memberikan alasannya”
“waktu itu kamu masih terlalu kecil dan tidak akan mengerti kenapa ayah bersikap seperti itu. Sekarang kamu sudah mencapai umur sudah 25 tahun dan kamu harus tahu bahwa sebagian orang-orang yang masuk neraka itu adalah pelukis apalagi lukisan itu seperti benda-benda hidup yang sering kamu visualisasikan lewat lukisanmu itu”
Aya tersandar ke dinding tak tahu harus berbuat apa mendengar perkataan ayahnya. Mimpi-mimpinya terasa terkubur dalam-dalam begitu saja. aya tidak bisa berkata apa-apa lagi
“Aya tidak bisa meninggalkan dunia ini bu, yah, tidak bisa!” Aya pun beranjak pergi dari ruang itu
“Kamu harus memilih Aya antara ayahmu atau keinginanmu itu” ibunya pun memberikan pilihan yang membuat Aya berhenti berjalan
Hatinya berdegup kencang, Seluruh badannya berkeringat, dirinya seakan tidak bisa berbicara lagi tapi ia harus memutuskan momentum saat itu juga,
“Ayaaaaaaaaaaa, emmm Ayaaaaaa akan menuruti apa kata ibu dan ayah”
“Alhamdulillah” sebut kedua orang tuanya
Aya berlari sejadi-jadinya menangis tersedu, tapi ia sembunyikan di balik diamnya. Tidak ada sepatah kata pun yang ia ucapkan saat berada di rumah hanya tatapan kosong pada dinding tempat ia bersanar di ruang kamarnya.
“Sya kamu jangan sedih berlarut-larut ini juga untuk kebaikan kamu. Berubahlah nak demi kedua orang tuamu ini. ayah dan ibu tidak tega membiarkanmu meninggalkan dunia lukis begitu saja. Kamu masih ingat dengan kampung seni yang waktu dulu ibu ajak saat kamu berumur 5 tahun terus ada kakek yang lagi menggambar. Kamu ingat tidak apa yang digambarkannya”
“Tidak bu”
“Ia menggambar huruf-huruf al-Quran yang disebut dengan kaligrafi. Di sana ada pesantren dan kamu bisa belajar melukis kaligrafi itu juga kamu belajar agama di sana, gimana?
“Yah kalau itu memang maunya ibu dan ayah, aya akan ikuti”
Kampung seni yang terkenal dengan lukisan-lukisan alam juga kaligrafinya itu menyuguhkan decak kagum di mata Aya. Semua orang yang ia temui di jalan pasti membawa kaligrafi atau lukisan yang sedang di jemur di depan rumahnya seperti pemandangan kota prancis yang bertebaran pelukis jalanan, tetapi bedanya di sini melukiskan keindahan huruf-huruf al-Quran juga pakaian yang mereka kenakan terasa asing bagi Aya, hijab oleh kaum perempuan membuatnya terasa asing dan menjadi pusat perhatian. Ibu yang sedang bertanya di mana alamat pesantren itu pun mengagetkan aya dari lamunan tentang dunia barunya.
“Ay, ayo kita ke arah sana. Mulai sekarang kamu harus berubah seperti para perempuan di sini mengenakan hijab dan memang itu sebenarnya sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslimah seperti kita nak, makanya ibu sering menganjurkanmu memakai hijab itu”
“Iya bu, aya juga ingin hijrah, aya sadar banyak kesalahan yang telah aya lakukan, Aya ingin menembus dosa Aya dengan mendengarkan apa saja kata ayah dan ibu”
“Ayaaaa” ibu memeluk si Aya
Pesanteren itu dihiasi oleh ornamen-ornamen yang indah dari kaligrafi seperti istana putih yang memiliki kekuatan magis yang menyejukan hati. Saat kakinya melangkah melewati gerbang daun berguguran jatuh dari tangkai menyambut kedatangan Aya dan ibunya dan disambut senyum manis dari penjaganya.
Setelah ibunya pulang dan Aya pun memulai kehidupan barunya selama setahun untuk belajar melukis keindahan huruf-huruf al-Quran. Dunia baru yang terasa asing baginya itu banyak mengundang Tanya saat ada kerudung yang ibunya sediakan juga jarum pentul serta bross yang coba ia kenakan di depan cermin.
“Bismillah, ya Allah kuingin menebus semua kesalahanku dengan berhijrah menjadi seorang muslimah yang seutuhnya dan akan belajar melukiskan keindah ayat-ayatmu semoga niatku disambut dengan baik”
Aya pun mulai menajalani hari-harinya dengan kerudung yang menutupi kepalanya belajar membaca dan menulis huruf-huruf alquran satu persatu. Saat ia ingin mencoba melukiskan huruf demi huruf itu terasa susah baginya karena dulunya melukis dengan kuas sekarang berhadapan dengan benda bernama handam seperti pena yang menyerupai canting untuk membatik lalu dicelupkan pada biang warna.
“Aya kamu harus belajar dasarnya dulu, baru kamu bisa seperti teman-temanmu itu, ayo ikut saya” ustadzah jannah pun mengajariku untuk mengaji
“Loh kok mengaji ustadzah, bukannya belajar menggambar huruf arabnya”
“Kamu harus paham dulu makna dari apa yang akan kamu tulis itu, dan itu dimulai dari sini, ibumu juga menyuruh kami mengajarkanmu untuk mengaji baru setelah mengaji saya akan mengajarkanmu untuk menulis huruf demi huruf hijaiyah itu. karena dalam melukiskan ayat al-quran itu jika salah kita menuliskannya maka salah pula maknanya masalah keindahan itu nomor dua yang terpenting itu kamu paham betul apa yang akan kamu tulis”
“Oh begitu ya ustadzah.
Setiap malam Aya tak henti-hentinya  belajar menuliskan huruf dari bentuk hingga lekuk sangat ia pelajari betul-betul juga bacaan al-Quraannya selalu ia latih setiap habis shalat.
“Baiklah ustadzah saatnya untuk mencoba, insya Allah aya siap. Tintanya sudah sip dan jelas kemudian tingkat kemiringan pelatuk pulpen sudah pas dan kumulai dengan menggoreskan basmalah dengan tipe
“Sepertinya kamu menyerupai karya Hasan bin Ahmad Qarahishari, bentuk dan lekukannya itu. yah saya sangat menyukai gayanya dalam menuangkan ide ustadzah”
“Memang begitu seharusnya Aya, kita harus punya panutan agar kita bisa mencontohi kesuksesannya itu”
Aya begitu jatuh cinta pada dunia kaligrafi dan ia membawanya pada suatu gelar baru yaitu khatatah bukan lagi seorang pelukis, meski masih dinilai amatir beberapa kaligrafinya sudah pernah dipasarkan di luar negeri. Menjelang hari selesainya ia belajar dari pesanteren pencetak khatat dan khatatah itu ia semakin menambah jam terbang untuk berlatih dan bereksperiman dengan motif, corak, serta sketsa mengahasilkan sebuah visualisasi huruf-huruf yang indah.
***
“come on, come on, oh yes, guys this is really ours success and finally” Danu mengenggam tangan ke atas tanda keberhasilan yang telah dibangunnya bersama tim.
GM (General Manajer) Danu Atmadja adalah panggilannya di kantor, sosok yang memancarkan kharismatiknya saat ia berjalan melewati para pegawai. Kepiawannya dalam bernegosiasi dan manajerial mengantarkannya menduduki jabatan tertinggi di kantor, hal itu didapatkannya bukan tanpa alasan. Semua yang diraihnya dalam usia yang sangat muda tidak ada satupun tersentuh koneksi. keberhasilan yang selalu ia dapatkan selalu ia rayakan dengan berpesta ria bersama rekan kerja dan juga teman-temannya.
Kerlap kerlip lampu dengan alunan musik yang menghentak lengkap dengan DJ (Disk Joker) membuat orang-orang yang berada di dalam ruangan ikut bergoyang sambil membawa minuman memabukan di tangannya begitu juga dengan danu. Ia tampak larut dalam suasana perayaan kemenangan perusahaan dan sekaligus merayakan dirinya menjadi kandidat bursa promosi jabatan. Terpejam matanya sambil berjalan tak tentu arah berjalan menuju parkiran mobil, dengan setengah kesadaran yang ia miliki ia pun menancap gas dan mobil pun melaju.
Gerimis menghampiri subuh membawa suasana syahdu dan berembun. Seperti salju yang jatuh di kulit dan melebur menjadi air yang begitu dingin hingga merasuk ke tulang, Aya pun merentangkan tangannya menikmati nuansa yang terasa romatis baginya, tanpa sadar ia memejamkan matanya  dan ada seperti kilatan cahaya menghampirinya hingga membuat pandangannya tampak gelap.
Danu terdiam tanpa kata ketika ia melihat sosok yang ditabraknya tadi. ia keluar dari dalam mobil melihat darah yang mengalir dari wajahnya. Ia bingung untuk melakukan apa, setelah lama ia pandangi sosok yang tergelatak itu, lalu ia pun pergi meninggalkan orang yang ditabraknya. Seluruh badannya seperti bergetar atas keputusan yang telah dilakukan lama ia mengurung dirinya di kamar mandi.
***
Suara sirene ambulance melaju mengantar sosok yang berbalut kerudung putih penuh dengan darah. Tidak ada kata apalagi gerak yang ada hanyalah para dokter yang bekerjasama dalam ruangan operasi untuk melakukan pertolongan pada sosok Aya. Keluarga dan juga sahabatnya berharap cemas di luar ruang operasi. Dokter pun keluar dari ruang dan semua orang menghampirinya.
“Dokter bagaimana anak saya?”
“Saya ingin bicara dengan orang tuanya”
“Berat saya harus sampaikan pada bapak dan ibu bahwa anak anda tidak dapat kami tolong”
“Maksudnya aya tidak bernafas lagi” ibu dan ayahnya sangat terpukul mendengar pernyataan dokter
“Bukan bu, maksud saya anak ibu tidak dapat melihat lagi akibat benturan benda tajam matanya pun mengalami pendarahan hebat dan tidak segera di bawa ke rumah sakit hingga pertolongan sudah kami lakukan semampunya”
Aya membuka kedua kelopak matanya dan penglihatannya tampak gelap, berkali-kali ia kedipkan matanya namun tidak ada gunanya.
“Yah, bu mata aya kenapa?” 

“ Aya kamu harus tabah ya nak” ibunya pun menangis tanpa bersuara sambil menguatkan aya
“Aya buta bu, bagaimana dengan mimpi-mimpi Aya, rencana Aya, Aya tidak ingin seperti ini bu, aya ingin menjadi seorang khatatah yang hebat bu, tapi kenapa harus itu bu yang hilang dalam diri aya” aya pun tak menahan air matanya begitu histeris hingga pingsan.
“AYAAAAAAAA” ibunya menahan aya yang tak mampu menerima kenyataan itu
***
Suara riuh angin membawa terbang daun-daun kering di taman, Aya duduk di taman menikmati suasanan itu dengan menghirup aroma harum bunga mawar yang bermekaran, raganya tanpa sadar membangunkannya dari tempat duduk dan berjalan sambil merentangkan tangan, dan suasana itu membawanya berjalan hingga ke jalan raya, suara klakson dari jauh terdengar nyaring yang akhirnya berhenti tepat di sampingnya.
“Mbak kalau mau bunuh diri mikir-mikir dong. Bukannya mbak yang masuk penjara, tapi saya mbak”
Aya pun bangun dari tempatnya terjatuh, si Asha sepupunya pun datang menghampiri
“Ya ampun aya kamu tidak apa-apa kan. Mas sepupu saya ini tidak bisa melihat. Tidak semua orang yang ingin menyeberang jalan itu mau bunuh diri”
Danu pun melotot ketika melihat sosok Aya yang pernah ditabraknya dulu. Ia pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Seluruh tubuhnya gemetaran tapi ia menampakan kesan tenangnya pada mereka.
“Maaf mbak saya tidak tahu apa-apa soal itu. tadi saya habis dari kantor, dan sedang ada masalah jadi emosi saya jadi meluap-luap di sini, sekali lagi saya minta maaf”
“Iya mas, saya juga minta maaf, tadi saya terlalu terbawa suasana angin di taman. Di taman itulah saya selalu merasa ketenangan datang, bisa bantu saya kan ke sana, kalian harus tahu bahwa duduk di taman ini saat semua lelah di sore hari bisa memberikan sebuah rileksasi”
Danu pun menuntun si aya begitu juga asha yang mengiukuti kata aya untuk duduk di bangku taman
“Perkenalkan saya Danu Atmadja, Manajer di High Fashion Departman Store”
“Wow jabatan anda keren sekali, pasti rasanya senang ya bisa mencapai puncak jabatan itu, dari suara anda saya bisa menerka umur anda pasti masih di bawah 30 tahun”
“Yah excectly. Sangat tepat. Oh ya perempuan cantik seperti anda pasti juga masih muda kan?”
“Yah, saya ayanun jannah, pangil saja aya. Umur saya memang masih 25 tahun.
“Saya Asha sepupunya, mbak Aya adalah mentor saya dalam membuat kaligrafi”
“Meski tidak bisa melihat keindahan dunia, selama tangan masih bisa mengengam handam dan mengoreskannya dengan penuh keyakinan adalah sebuah keistimewaan yang patut disyukuri. Membagi ilmu merupakan sebuah keharusan agar abadi dan menjadi lebih berkembang juga dapat membawa manfaat bagi banyak orang”
“Handam apa itu?”
“Itu adalah alat serupa pensil tapi itu ia memilik kekhasan sendiri, impianku dari dulu adalah menjadi seorang kaligrafer yang handal bertahun-tahun belajar berusaha membuatnya, tapi semua ini ada hikmahnya juga saya lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarga tidak seperti dulu”
Danu terdiam sejenak, dan ia berpikiran ternyata ia telah membunuh mimpi-mimpi Aya. Rasa yang berkecamuk di dalam hatinya sungguh ia tahan dengan senyuman yang ia tampakan di raut wajahnya”
“Aya sekarang hampir maghrib, kita pulang ya ay”
“Kalau boleh saya akan mengantarkan kalian pulang”
“Oh iya antarkan kami ke masjid saja”
Saat menaiki tangga Danu merasa ketenangan yang membawanya pada rasa penuh penyesalan ia menuju ke ruang wudhu, menyucikan diri, mulai mengingat kenangan baik masa kecil yang selalu mengajarkannya untuk beribadah. Sujudnya pada sang maha Kuasa adalah yang pertama kali setelah puluhan kali. Dalam doanya ia meminta pengampunan dan sejak hari itu hidupnya berubah total, dunia yang telah menyesatkannya ia tinggalkan secara perlahan.
Aya adalah alasan Danu berubah, keseharian untuk memberikan ilmu kepada para anak panti asuhan di dekat masjid menjadi alasan pertemuan mereka setiap hari. Aya menjadi pengajar agama berdua dengan asha yang sangat setia untuk menemaninya. Sementara danu mengajarkan anak-anak di sana untuk mengaji di malam hari setelah ia pulang dari kantor, begitulah seterusnya.
“Ay ada yang mau saya omongkan” saat mereka sedang menuju rumah dan hanya ada danu dan aya
“Iya, mau ngomongin apa?” aya berhayal bahwa danu akan melamarnya
“Sebenarnya sayaaaaaaa” Danu menoleh kepada Aya sangat lama sampai ia lupa bahwa ada tikungan di depan mereka
“YA ALLAH”
***
Kedua kelopak mata indah itu pun membuka katupnya perlahan, hitam dan gelap itu tidak lagi menghalangi pandangannya, dunia dan seisinya tampak jelas semuanya. Kini Aya penglihatannya pun pulih kembali betapa senangnya dia. sebuah keajaiban yang tidak pernah ia duga sebelumnya
“Ibu, ayah, semuanya Aya sudah bisa melihat kembali” aya pun memeluk ibunya
“Iya nak kamu sudah bisa melihat dengan jelas, kamu jaga mata itu baik-baik ya nak, ada surat yang harus kamu baca aya”
Sebuah surat yang menjadi tanda Tanya untuk aya
Jika aku tak sanggup mengatakan yang sejujurnya dan kamu harus tahu yang sebenarnya aya
Aya sebenarnya aku ingin jujur bahwa aku sudah mencintaimu saat kita bertemu untuk yang kedua kalinya. Berat rasanya kukatakan bahwa pertemuan pertama kita adalah waktu kamu ditabrak oleh mobil, dan pelakunya adalah aku. Bertemu denganmu sangat mengubah duniaku yang kelam. Semakin lama kusembunyikan kebenaran itu, semakin pedih dan rasa bersalah saat kulihat wajahmu. Tak sanggup rasanya harus kukatakan ini secara langsung, aku ingin menebus kesalahanku tapi aku tidak tahu caranya, tapi aku harus mengatakan kebenaran itu aya semoga saja kau mau memaafkanku.
Ambisiku dalam dunia kerja tidak dapat dineracakan oleh rasa cintaku padamu, meski kuakui bahwa fluktuasi untuk menyatakan kebenaran itu tidak akan pernah seimbang. Kau adalah aktiva yang tidak akan pernah mengalami penyusutan sedikitpun untukku, maka keharusan bagiku untuk berkata sejujurnya padamu

“Nak itu adalah pesan terakhir dari danu agar memberikannya padamu, dan kami sudah tahu semuanya. Nayawanya tidak bia ditolong lagi dan ia juga meminta untuk mendonorkan matanya kepadamu dan ternyata bisa nak. Mata sendu yang ada pada dirinya kini menjadi milikmu nak, ikhlaskan semua yang telah terjadi aya” aya pun memeluk ibunya sambil menangis tersedu.

Sabtu, 16 April 2016

CERPEN: SETENGAH HATI

Setengah Hati
“Mendalami jiwa yang terkadang atau bahkan dipenghujung kerapuhan sungguh sangat sulit untuk membawanya kembali seperti sedia kala, jalan terakhir hanya dirimulah yang bisa menyelamatkan kehidupanmu yang setengah hati”
“AAAAAAAAAA, TIDAAAAAAAAAAAAK” aku terbangun mimpi buruk  hingga membuatku bersuara keras. Nafasku tak beraturan. Tubuhku panas bercampur keringat. Kupandangi langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Seseorang yang kulihat berjubah hitam yang tak memperlihatkan wajahnya itu berbicara sambil menuntunku melewati lorong yang begitu gelap lalu ia mengatakan kata-kata itu. Otakku merekam dengan sempurna kata-kata itu hingga membuat ia terngiang-ngiang di kepala ini. Penghujung lorong yang berujung pada sebuah rasa yang sangat sakit kurasakan yang pada akhirnya membangunkanku saat ini.
***
“Aku pasti bisa, aku perempuan tangguh. Bisa bisa bisa bisa bisa bisa bisa bisa bisa”. kata-kata itu kuucapkan dengan perlahan sambil mengepalkan tangan hingga masuk ke ruang kelas.
Saat berada di depan pintu duniaku seakan mengawang-awang, jantungku pun rasanya mau copot sejadi jadinya. Kupandang  wajah mereka yang senyam senyum ada juga yang menaikan alisnya dengan jari telunjuk yang berada di kening.
“SAMILA PUTRI” mata panda yang melotot dengan garangnya
“KAMU LAGI, KAMU LAGI TELAT TERUS MAU JADI APA KAMU ATUH” mata panda itu kembali memandangku sambil menyimpan tangan di pingangnya.

Kakiku pun berhenti di ambang pintu. Langkah kakiku Berhenti karena hentakan suara Bu Sarinah yang  membuat seisi ruangan menjadi menggema. Seperti itulah keseharian semenjak terjadinya mimpi buruk yang sering kualami.
“Kamu kenapa telat kita hari ini persentasi Sam” bisik Dita padaku
“Iya aku tahu. Tadi aku kesiangan akibat mimpi buruk” bisiku padanya
“Kalian berdua cepat maju sudahlah hari ini persentasi telat lagi” Bu Sarinah pun sangat marah kepada kami berdua.
“Itulah penyajian persentasi dari kelompok kami, dipersilahkan jika teman-teman ada yang belum paham atau ada yang ingin menambahkan disilahkan untuk dua orang pada sesi pertama”  Momen inilah yang paling kubenci karena kebanyakan mereka bukannya tidak paham tapi menguji atau bahkan menjatuhkan temannya sendiri saat persentasi.
Pikiranku melayang entah ke mana dan badanku bergetar dan kudengar ucapanku seperti terbata-bata kulihat wajah mereka yang seperti mengeleng-gelengkan kepala dan tertawa kecil. Batinku perlahan-lahan ciut dan membuat diriku seperti terjermbab di lantai berulang-ulang kali. Setiap persentasi diriku selalu menetapkan target untuk berhasil belajar pun tidak pernah kulewatkan. Menjelang pelaksanaannya semua harapan itu sirna menjadi sebuah benalu berakibat pada rasa malu karena penyampaian tidak tersampaikan dengan baik.
Kegagalan membuatku berkali-kali jatuh terjermbab ke dalam sebuah rasa ketakutan. Pernahku lawan takut yang bersarang di pikiran ini tapi, kekuatannya begitu besar mempengaruhi alam bawah sadarku. Semua itu berawal sebuah kegagalan yang aku alami pertama kali di masa SMA. Menghadapi berbagai keputusan membuat pikiranku mendatangkan kebingungan membuatku menjalaninya setengah hati.
Persentasi pun usai aku kembali ke tempat dudukku sambil menopang tangan di dagu. Terdiam diriku dalam lamunan, lalu kubertanya pada diriku sendiri “Mengapa nyaliku begitu kecil sementara ambisiku begitu besar? Telah lama kubungkam semua yang ingin kusampaikan tapi akhirnya kembali lagi pada rasa setengah hati dalam menjalaninya. Kegagalan saat kuingin mendapatkan beasiswa masih tidak bisa lepas dari pikiranku.
“Sam, Sam, Sam?” Dita menggoyang-goyangkan tubuhku
“Emm yah. Ada apa?” aku pun terlepas dari lamunanku
“Kamu kenapa? Pasti mikirin persentasi tadi ya. Aku rasa ada sesuatu yang salah di dalam dirimu yang membuatmu seperti ini. Kamu itu orang yang cerdas loh, masa berbicara sesimple itu saja kamu tidak bisa. Kamu harus tegas pada dirimu sendiri jangan terkatung-katung dengan nasib yang tak jelas”
Aku hanya diam mendengar perkataannya. Memang mudah mengatakan AKU PASTI BISA, tapi butuh keyakinan yang kuat untuk membangun tembok-tembok kuat sebagai tameng  badai-badai yang mengahantam semangat. Lelah berharap membuatku merelakan impian-impian besar begitu saja. Tanpa sadar diriku seperti hidup dalam dunia yang dikerubungi berbagai prasangka yang membawa kerapuhan mendalam.
Setengah keberhasilan pernah kuraih diawal keyakinan yang kupegang dengan erat. Olimpiade sains tingkat kabupaten pernah mengantarkanku sebagai pemenang olimpiade geografi, dan keinginanku dari dulu adalah menjadi seorang yang ahli dibidang itu, aku bercita-cita ingin menjadi bagaian dari orang-orang BMKG (Badan Meteologi, klimatologi dan Geofisika) yang bisa membantu orang-orang terhindar dari bencana yang mengancam keselamatan mereka. Setiap ada berita tentang bencana di televisi aku selalu berharap akan menjadi penyelamat dan pemberi isyarat tentang kemungkinan terjadinya gempa itu.
Bencana itu pun menerpaku di saat hatiku terbesit sedikit keraguan, tapi aku tetap mengharap impian itu akan menjadi kenyataan. Berbulan-bulan selama masa akhir SMA kuurus berkas-berkas untuk menjadi mahasiswa di perguruan tinggi yang kuimpikan dari dulu. Hingga tibalah pengumumannya
Kubuka dengan perasaan deg-degan pada layar monitor menuliskan nomor peserta dalam hitungan detik jawabannya pun keluar dan ternyata “SAMILA PUTRI-CADANGAN” Betapa hancur dan sakitnya perasaanku melihat kalimat itu tertulis dengan jelas, rasanya ku tak ingin menghadapi kenyataan ini. Hingga berbulan-bulan lagi kutunggu kabar berita dari status cadangan menjadi diterima itu tak kunjung tiba kuputuskan untuk melepaskan impian terbesar itu dengan perasan yang setengah hati, karena hidup harus tetap di jalani meski berat untuk menerima semua itu.
“Sam, Sam, Sam, SAMILA PUTRI” Dita berusaha membangunkanku dari lamunan panjangku tadi
“Iya Dit, maafkan aku. Rasanya memang sulit merelakan semua yang telah terjadi di masa lalu, meski kucoba ribuan cara untuk mengembalikan diriku seperti dulu lagi itu tak mungkin, setengah hatiku masih tertinggal di masa lalu yang membuatku terlanjur tengelam bersamanya. Tapi akanku coba meski jujur sangat sulit ku lepas bayang-bayang kegagalan itu”
“Sam, untuk apa kamu sesali peristiwa yang telah berlalu. Mungkin itu adalah jalan yang Tuhan pilihkan untukmu menuju kesuksesan. Kita harus banyak bersyukur loh masih bisa kuliah, badan pun masih sehat, tanpa kekurangan suatu apa pun. Masih banyak orang yang jauh kurang beruntung dari kita. masih ingatkan sama pemulung yang lewat depan kita waktu itu, ia memberikan senyum terbaiknya kepada kita meski memikul barang bekas yang begitu banyak sampai-sampai badannya bongkok, meski begitu ia terlihat bahagia. Maka dari itu kita patut banyak-banyak bersyukur”
***
Mentari pagi memabangunku dengan semilir angin dari celah celah jendela. Tidak ada lagi mimpi buruk dan orang berjubah hitam itu lagi menghantui pikiranku, karena keterpurukan yang kuciptakan dari pikiran salah itu. pancaran sang mentari menyilaukan pandangan saat kubuka kelopak mata satu persatu. Kubangkit dari tempat tidur  dan kubuka jendela dan aku bergumam dalam hati
“Setengah hati yang terjebak masa lalu memberikanku kekuatan untuk membangun separuhnya lagi dengan tembok-tembok keyakinan yang masih tersisa, langkah kaki pun terasa ringan  berdiri di depan jendela dan membukanya lebar-lebar untuk melihat pesawat yang mengukir kondenisasi dilangit dengan kata AKU PASTI BISA sebagai simbol semangat baru”


PUISI: SETENGAH HATI

Puisi

Setengah hati
Gundah yang berkelana di dasar hati
Masih menyisakan Tanya pada diri
Ke mana langkah harus mencari
setengah kepingan dari  yang memiliki

tanpa tanda dan petunjuk
setengah hati itu hanya tergeletak
begitu saja membuat Tanya membeludak
menyeluruh  dari isi hingga ke bentuk

setengah hati yang terlanjur hadir
sejatinya mengharapkan keutuhan
hanya ada dua pilihan untuk penyelesaian
mencari pengganti dari setengah hati yang hilang
atau meninggalkan setengah hati seutuhnya
lalu mencari keteguhan hati dalam keutuhan




Kamis, 31 Maret 2016

PERJALANAN

Perjalanan panjang adalah proses untuk kita melangkah tangga demi tangga keberhasilan, sebuah keyakinan yang akan mengantarkan itu menjadi sebuah kenyataan

Perjalanan
Jalan adalah sebuah sarana bagi seseorang untuk mencapai tujuannya. Ia tidak hanya bermakna sebagai tempat untuk dilalui oleh kaki, tapi jalan juga memiliki filosofi. Berbagai macam aksi dan reaksi saat mendengar kata itu. bagi seorang anak mahasiswi semester akhir jalan adalah sebuah jalur untuk menentukan masa depan. kenyataannya jalan itu tidak selamanya memilki jalur yang lurus ia mempunyai cabang cabang yang lain hingga terkadang membuat kita binggung untuk memilihnya.
Hidup itu pilihan, begitu juga jalan yang akan kita lalui itu adalah sebuah keputusan dari diri sendiri. Ketika sudah menentukan jalan hidup dan menentapkan tujuan yang ingin dituju maka saat itulah berbagai cara dilakukan. Sebelum kita sadar akan tujuan yang kita inginkan ada sebuah keadaan yang membuat kita terbangun bahwa “AKU HARUS BERUBAH” semangat pun berkoar-koar setiap proses yang dilalui.
Jalan  untuk mencapai sebuah kesukesan itu tidak akan membiarkan kita mudah untuk menapakinya. Kenikmatan terkadang berada di awal hingga membuat kita terbuai dan mengatakan ini adalah keberhasilan. Hingga lupa masih berapa KM lagi perjalanan yang harus dilalui itulah yang disebut persinggahan tipu daya. Manusia memilki kadar kepuasan dan mengatakan bahwa itu sudah cukup. Melepaskan mimpi besarnya begitu saja.
Roda kehidupan akan selalu berputar kadang kita berjalan di atas dan terkadang berada di bawah. Saat seorang sedang diuji kesungguhannya berada di bawah, tidak memilki apa-apa kehidupan yang terkadang membuatnya bingung dan terkadang tujuan dirinya pun tidak jelas. berbagai metode dan strategi masih tidak mampu untuk dirinya berjalan lebih cepat, hingga terkadang membuatnya lelah dan membuatnya singgah dan bahkan berhenti.

Masa lalu adalah sebuah pelajaran untuk menapaki bumi ini supaya lebih berhati-hati. Masa depan memang masih menjadi misteri, tapi ditangan orang yang berani bermimpi besar itu adalah sebuah masa di mana ketika akan memetik hasil jerih payah dari perjalanan itu. Hanya manusia yang mau berubah setiap harinyalah yang akan menikmati setiap keindahan dari hasil ujian yang dijalani secara tulus dan pantang menyerah dan menaiki tangga demi tangga keberhasilan dengan manisnya.

Rabu, 30 Maret 2016

ADA APA DENGAN MAS???

Ada apa dengan mas???
Ibaratkan teka-teki menjadi sebuah misteri hingga berujung pada tanda Tanya tentang dia yang kehilangan senyumnya seketika, hanya menyisakan ribuan pertanyaan di benak setiap orang,  “Ada apa dengan mas???”

Bibi, Ahjuma, Bahagia itulah panggilannya memilki kulit kuning langsat dan memilki banyak fans ketika hang out bersamanya. Tapi hari ini sungguh berbeda. rabu, 30 Maret 2016 menjadi sejarah ia kehilangan senyumnya. Saat orang-orang mengajak bicara ia bungkam tanpa sepatah kata pun. Menatap dengan tatapan kosong. Kulihat matanya memerah kemudian membengkak seperti orang habis menangis. Oh teman ada apa denganmu?
Kronologisnya kira-kira begini……..
Mata kuliah pertama pukul 07.30 tumben-tumbenya ia datang terlambat. Saat kuliah berlangsung ia masih tertawa dan bercanda dengan kami semua di kelas. masih cengar-cengir kiri kanan. Setelah mata kuliah pertama usai ia masih sama masih bisa menebarkan senyumnya. Tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan apalagi badai ia yang baru saja keluar dari WC dan ketika masuk ke dalam kelas ia menundukan kepalanya dengan wajah bermuram durja dan tidak menjawab teguran siapa pun.
Ada apa dengan kamu mas? Tidak seperti biasanya kamu. Kamu yang selalu kuat walaupun diterpa berbagai hal yang melemahkan. Kamu yang selalu menasehatiku saat berada dalam keterpurukan. Teman biasanya kamu bercerita tentang kepedihan itu tapi sekarang, mungkin sekarang butuh ketenangan untukmu menyelesaikan masalah dan orang tidak perlu tahu masalahmu. Mengenai itu aku hargai keputusanmu
Pesan untukmu teman, jika kau merasa sangat-sangat tak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi masalahmu. Maka dengan mengikhlaskan semua yang telah terjadi dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Ingat sob kita masih punya Allah yang selalu memberikan hambanya sebuah ketenangan yang hakiki. Memang saat-saat semester akhir sungguh membuat kita kebingungan tujuh keliling. Tapi percayalah genggam mimpi itu kuat jangan biarkan ia lepas dari cengkraman kita, yakinilah.


Selasa, 29 Maret 2016

DUA DEKADE


Dua decade banyak fenomena yang tak terduga dan  ketika berada di fase serba salah itu membuat hari-hari menjadi berstatus di ambang kebosanan
Dua dekade
Apa yang ada di benak setiap orang saat berada di fase 20 tahun? mungkin setiap manusia memiliki kebutuhan yang sama tapi tidak dengan keinginan. Ada banyak hal yang mewarnai umur yang merupakan gerbang menuju kedewasaan itu. Meninggalkan kata teen dalam kaidah bahasa sudah dianggap orang dewasa, meninggalkan umur belasan memang berat hingga tantangan hidup pun baru terasa campur aduk.
Hidup memang harus disyukuri, ikhlas, sabar dan qanaah. Semua itu tidak cukup untuk melalui hari-hari di masa depan, kenapa? Karena butuh sebuah mental baja untuk membentengi diri dari hantaman badai masalah. Masalah itu jika sering dipikirakan maka tak akan ada habisnya, tapi ada satu masalah yang harus kita cari sampai dapat, yaitu mencari masalah untuk tugas akhir di perguruan tinggi, skiripsi maksudnya!!! hehe
Pertengahan dua dekade yang banyak hal yang dipikirkan dan berkecamuk begitu hebatnya di dalam otak. Banyak penyesalan dari keputusan yang diambil. Hal yang tak pernah terduga, terjadi hingga menjadi buah pikiran dan belum menemui titik terang. Keresahan yang berkepanjangan menjadi pemicu utama keterpurukan. Intinya di umur inilah banyak yang mengalami fase serba salah akibat banyak desakan, ketegangan, kecemasan, dan harapan.
Masa depan pun menjadi tanda Tanya besar dalam mengarungi hari-hari. Akan jadi apa aku nantinya? Terus aku akan bekerja di mana? Terus bagaimana aku bisa membahagiakan orang tuaku? Kapan aku bisa mewujudkan keinginan orang tuaku? Atau apakah aku bisa mewujudkan cita-citaku? Itu adalah sebuah keinginan yang mulai goyah akibat benturan dari timur, barat, selatan, dan utara membuat hati dan pikiran menjadi dramatis dan dilematis.

Sebelum benar-benar memasuki fase dewasa, maka di depan pintu gerbang hendak menuju kedewasaan memang harus menyiapkan amunisi terbaik. Amunisi itu pun akan melindungi diri dari perusak-perusak kehidupan dan menembaknya hingga tak ada celah lagi untuk menggangu. Amunisi itu hanyalah diri kita sendiri yang bisa mengkonsepkannya sedemikian rupa hingga menjadi sebuah perwujudan harapan di masa depan.

Sabtu, 12 Maret 2016

CERPEN: PARTIKEL SEMANGAT UNTUK HUDA

Partikel Semangat Untuk Huda
Badai datang berkecamuk dalam dada tak henti-hentinya hendak menerobos partikel semangat yang susah payah dipersatukan dari dimensi yang berbeda, tapi pada hakikatnya kendali seluruh kehidupan ada di tangan Sang Pencipta.

Senyum manis kini tak pernah diperlihatkan sosok yang sering bercengkrama dengan kami. Kos Jamilah seperti kehilangan keceriannya, saat orang yang paling dikagumi seperti menutup dirinya. Huda Laila namanya, bahkan ia tidak peduli ketika anak kos yang lainnya membicarakannya. Ia hanya berlalu begitu saja di hadapan mereka dengan kondisi mata yang membengkak.
Murungnya kak Huda menjadi misteri bagi kami, terutama aku yang selalu salut di setiap kata yang ia keluarkan dari bibir mungilnya itu. Sebulan sudah ia seperti itu tidak mau berbicara kepada kami, apalagi menceritakan masalahnya. Tidak tega rasanya melihat keceriannya hilang begitu saja. Bahkan tidak ada satu pun di antara kami anak kos yang berani menanyakan langsung padanya.
Hingga pada suatu malam ia pun berteriak, sekencang-kencangnya membuat anak kos pada heboh, tapi tidak berani untuk melihat ke kamarnya.
“Shayyidah, kenapa kak Huda jadi begitu ya? Kamu kan paling dekat dengannya coba tanya gitu sama dia!”
“Bukannya aku tidak mau ya Von, dia itu setiap aku tegur nyahut saja tidak bagaimana aku mau bertanya padanya, setiap aku mau ke kamarnya pasti selalu di kunci”
“ada apa dengan kak huda? sungguh misteri sekali, apalagi ia paling tua di antara kita-kita di sini” Voni berkata sambil menerawang-nerawang
“Apa yang harus kita lakukan ya? Aku kasihan melihatnya seperti orang yang sudah putus asa, kondisi kamarnya saja sudah sebulan ini aku tidak pernah melihatnya lagi” aku pun berpikir sambil menopang dagu.
“Kalau begitu kita harus membantu kak Huda untuk tersenyum lagi, bagaimana?”Voni menemukan ide
“Aku setuju, kita susun rencana besok, dan satu hari itu kita sudah harus mengetahui permasalahan dan solusinya” kami pun sepakat
***
Pagi
Aku dan voni pun memulai untuk menjalankan rencana kami tadi malam, aku bertugas untuk mengawasi kamarnya dari kamarku yang kebetulan bersebelahan dengan kamarnya. Dan si Voni karena hari ini ada mata kuliah, dan ia pun akan bertanya dengan teman sekelas kak Huda, yang sering nongkrong di perpustakaan.
Kutunggu suara pintunya terbuka, tapi tak kunjung dibukanya. Suara tangisan sepertinya selalu menghiasi kamar kak huda, aku hanya berdoa saat kak huda pergi ke wc kamarnya tidak di kunci. Waktu yang kutunggu akhirnya tiba juga, suara pintunya dibukanya perlahan, aku pun siap siaga untuk menerobos masuk ke dalam kamarnya, kak huda pun masuk ke dalam wc. Aku bergerak seperti Charlie chaplin masuk cepat ke dalam kamarnya, aku tercengang saat masuk ke dalam kamarnya…………….
Siang
Saat mata kuliah usai si Voni pun mulai melancarkan aksinya untuk ke perpustakaan, terlihatlah kak Ina sedang mencari-cari buku.
“kak Ina, boleh tanya sebentar ini masalah kak Huda?”
“Kamu tidak lihat saya lagi sibuk cari buku”
“Ayolah kak, tidak kasihan apa lihat temannya seperti orang yang putus asa?” Tanya Voni sambil meyakinkan kak Ina untuk mengatakan yang sebenarnya.
Kak Ina pun menghela nafas sejenak “heeeeeeeeeeeeeeh”
Malam
Aku dan voni saling tatap-tapan
“Von aku tak pernah menyangka ternyata”
“Aku juga tidak pernah menduga akan seperti itu, Shayyidah”
“Tadi saat aku masuk ke kamarnya kak Huda yang kulihat adalah 12 kertas yang di tempelkan di dinding kamarnya bertuliskan judul skrpsi yang ditolak”
“Ya ampun sebanyak itu Sha, aku tak pernah menyangka, pantas kak Huda segitu galaunya”
“Tadi juga kak Ina teman sekelasnya bilang kalau kak Huda lagi kesusahan skripsinya. itu saja tadi, tapi ia tidak bilang sampai kalau kak huda judulnya ditolak sebanyak itu”
” Lalu apa yang harus kita lakukan Von? Masa kita diam saja, melihat saudara kita menderita seperti itu”
***
Tok tok tok
“Kak huda, miss you” aku memeluknya saat ia membuka pintu kamarnya dan Voni pun ikut memeluknya juga
“Ada apa kalian memelukku”
“Kak maafkan kami karena telat tahu apa yang sedang kakak alami. Kak jangan pernah putus asa”
“Kak kembalilah seperti dulu, Huda yang selalu menebar senyum kepada siapa pun, memberikan semangat kepada teman-temannya, pantang menyerah, dan berprestasi, mungkin kakak tidak pernah merasakan kegagalan sebelumnya dan inilah saatnya kakak diuji, kak ketahuilah bahwa dibalik kesuksesan seseorang pasti ia pernah mengalami kegagalan” Voni berusaha meyakinkan kak Huda
“Kak Huda itu beruntung loh karena memilki partikel semangat yang bisa menguatkan, pertama partikel yang bisa menguatkan kakak adalah harapan orang tua itulah terkadang yang bisa menguatkan kita, kedua, partikel dari kami teman-temanmu yang tak akan pernah meninggalkanmu kak, ketiga, partikel yang paling menentukan kehidupan kita kelak yaitu Allah kak. Cobalah untuk bangkit kembali, tawakal, sabar serta mengikhlaskan semua yang telah kakak lakukan, kami yakin kakak bisa dan mampu untuk menemukan judul yang ketiga belas ini. ingat partikel-partikel semangat apabila telah disatukan akan mengahasilakan kekuatan semangat mahadahsyat jika kakak memikirkannya” aku berusaha meyakinkannya kembali

Kak Huda pun memeluk kami, hingga matanya berkaca-kaca dan menjatuhkan butir-betir bening berisi air mata haru……..