Sabtu, 16 April 2016

CERPEN: SETENGAH HATI

Setengah Hati
“Mendalami jiwa yang terkadang atau bahkan dipenghujung kerapuhan sungguh sangat sulit untuk membawanya kembali seperti sedia kala, jalan terakhir hanya dirimulah yang bisa menyelamatkan kehidupanmu yang setengah hati”
“AAAAAAAAAA, TIDAAAAAAAAAAAAK” aku terbangun mimpi buruk  hingga membuatku bersuara keras. Nafasku tak beraturan. Tubuhku panas bercampur keringat. Kupandangi langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Seseorang yang kulihat berjubah hitam yang tak memperlihatkan wajahnya itu berbicara sambil menuntunku melewati lorong yang begitu gelap lalu ia mengatakan kata-kata itu. Otakku merekam dengan sempurna kata-kata itu hingga membuat ia terngiang-ngiang di kepala ini. Penghujung lorong yang berujung pada sebuah rasa yang sangat sakit kurasakan yang pada akhirnya membangunkanku saat ini.
***
“Aku pasti bisa, aku perempuan tangguh. Bisa bisa bisa bisa bisa bisa bisa bisa bisa”. kata-kata itu kuucapkan dengan perlahan sambil mengepalkan tangan hingga masuk ke ruang kelas.
Saat berada di depan pintu duniaku seakan mengawang-awang, jantungku pun rasanya mau copot sejadi jadinya. Kupandang  wajah mereka yang senyam senyum ada juga yang menaikan alisnya dengan jari telunjuk yang berada di kening.
“SAMILA PUTRI” mata panda yang melotot dengan garangnya
“KAMU LAGI, KAMU LAGI TELAT TERUS MAU JADI APA KAMU ATUH” mata panda itu kembali memandangku sambil menyimpan tangan di pingangnya.

Kakiku pun berhenti di ambang pintu. Langkah kakiku Berhenti karena hentakan suara Bu Sarinah yang  membuat seisi ruangan menjadi menggema. Seperti itulah keseharian semenjak terjadinya mimpi buruk yang sering kualami.
“Kamu kenapa telat kita hari ini persentasi Sam” bisik Dita padaku
“Iya aku tahu. Tadi aku kesiangan akibat mimpi buruk” bisiku padanya
“Kalian berdua cepat maju sudahlah hari ini persentasi telat lagi” Bu Sarinah pun sangat marah kepada kami berdua.
“Itulah penyajian persentasi dari kelompok kami, dipersilahkan jika teman-teman ada yang belum paham atau ada yang ingin menambahkan disilahkan untuk dua orang pada sesi pertama”  Momen inilah yang paling kubenci karena kebanyakan mereka bukannya tidak paham tapi menguji atau bahkan menjatuhkan temannya sendiri saat persentasi.
Pikiranku melayang entah ke mana dan badanku bergetar dan kudengar ucapanku seperti terbata-bata kulihat wajah mereka yang seperti mengeleng-gelengkan kepala dan tertawa kecil. Batinku perlahan-lahan ciut dan membuat diriku seperti terjermbab di lantai berulang-ulang kali. Setiap persentasi diriku selalu menetapkan target untuk berhasil belajar pun tidak pernah kulewatkan. Menjelang pelaksanaannya semua harapan itu sirna menjadi sebuah benalu berakibat pada rasa malu karena penyampaian tidak tersampaikan dengan baik.
Kegagalan membuatku berkali-kali jatuh terjermbab ke dalam sebuah rasa ketakutan. Pernahku lawan takut yang bersarang di pikiran ini tapi, kekuatannya begitu besar mempengaruhi alam bawah sadarku. Semua itu berawal sebuah kegagalan yang aku alami pertama kali di masa SMA. Menghadapi berbagai keputusan membuat pikiranku mendatangkan kebingungan membuatku menjalaninya setengah hati.
Persentasi pun usai aku kembali ke tempat dudukku sambil menopang tangan di dagu. Terdiam diriku dalam lamunan, lalu kubertanya pada diriku sendiri “Mengapa nyaliku begitu kecil sementara ambisiku begitu besar? Telah lama kubungkam semua yang ingin kusampaikan tapi akhirnya kembali lagi pada rasa setengah hati dalam menjalaninya. Kegagalan saat kuingin mendapatkan beasiswa masih tidak bisa lepas dari pikiranku.
“Sam, Sam, Sam?” Dita menggoyang-goyangkan tubuhku
“Emm yah. Ada apa?” aku pun terlepas dari lamunanku
“Kamu kenapa? Pasti mikirin persentasi tadi ya. Aku rasa ada sesuatu yang salah di dalam dirimu yang membuatmu seperti ini. Kamu itu orang yang cerdas loh, masa berbicara sesimple itu saja kamu tidak bisa. Kamu harus tegas pada dirimu sendiri jangan terkatung-katung dengan nasib yang tak jelas”
Aku hanya diam mendengar perkataannya. Memang mudah mengatakan AKU PASTI BISA, tapi butuh keyakinan yang kuat untuk membangun tembok-tembok kuat sebagai tameng  badai-badai yang mengahantam semangat. Lelah berharap membuatku merelakan impian-impian besar begitu saja. Tanpa sadar diriku seperti hidup dalam dunia yang dikerubungi berbagai prasangka yang membawa kerapuhan mendalam.
Setengah keberhasilan pernah kuraih diawal keyakinan yang kupegang dengan erat. Olimpiade sains tingkat kabupaten pernah mengantarkanku sebagai pemenang olimpiade geografi, dan keinginanku dari dulu adalah menjadi seorang yang ahli dibidang itu, aku bercita-cita ingin menjadi bagaian dari orang-orang BMKG (Badan Meteologi, klimatologi dan Geofisika) yang bisa membantu orang-orang terhindar dari bencana yang mengancam keselamatan mereka. Setiap ada berita tentang bencana di televisi aku selalu berharap akan menjadi penyelamat dan pemberi isyarat tentang kemungkinan terjadinya gempa itu.
Bencana itu pun menerpaku di saat hatiku terbesit sedikit keraguan, tapi aku tetap mengharap impian itu akan menjadi kenyataan. Berbulan-bulan selama masa akhir SMA kuurus berkas-berkas untuk menjadi mahasiswa di perguruan tinggi yang kuimpikan dari dulu. Hingga tibalah pengumumannya
Kubuka dengan perasaan deg-degan pada layar monitor menuliskan nomor peserta dalam hitungan detik jawabannya pun keluar dan ternyata “SAMILA PUTRI-CADANGAN” Betapa hancur dan sakitnya perasaanku melihat kalimat itu tertulis dengan jelas, rasanya ku tak ingin menghadapi kenyataan ini. Hingga berbulan-bulan lagi kutunggu kabar berita dari status cadangan menjadi diterima itu tak kunjung tiba kuputuskan untuk melepaskan impian terbesar itu dengan perasan yang setengah hati, karena hidup harus tetap di jalani meski berat untuk menerima semua itu.
“Sam, Sam, Sam, SAMILA PUTRI” Dita berusaha membangunkanku dari lamunan panjangku tadi
“Iya Dit, maafkan aku. Rasanya memang sulit merelakan semua yang telah terjadi di masa lalu, meski kucoba ribuan cara untuk mengembalikan diriku seperti dulu lagi itu tak mungkin, setengah hatiku masih tertinggal di masa lalu yang membuatku terlanjur tengelam bersamanya. Tapi akanku coba meski jujur sangat sulit ku lepas bayang-bayang kegagalan itu”
“Sam, untuk apa kamu sesali peristiwa yang telah berlalu. Mungkin itu adalah jalan yang Tuhan pilihkan untukmu menuju kesuksesan. Kita harus banyak bersyukur loh masih bisa kuliah, badan pun masih sehat, tanpa kekurangan suatu apa pun. Masih banyak orang yang jauh kurang beruntung dari kita. masih ingatkan sama pemulung yang lewat depan kita waktu itu, ia memberikan senyum terbaiknya kepada kita meski memikul barang bekas yang begitu banyak sampai-sampai badannya bongkok, meski begitu ia terlihat bahagia. Maka dari itu kita patut banyak-banyak bersyukur”
***
Mentari pagi memabangunku dengan semilir angin dari celah celah jendela. Tidak ada lagi mimpi buruk dan orang berjubah hitam itu lagi menghantui pikiranku, karena keterpurukan yang kuciptakan dari pikiran salah itu. pancaran sang mentari menyilaukan pandangan saat kubuka kelopak mata satu persatu. Kubangkit dari tempat tidur  dan kubuka jendela dan aku bergumam dalam hati
“Setengah hati yang terjebak masa lalu memberikanku kekuatan untuk membangun separuhnya lagi dengan tembok-tembok keyakinan yang masih tersisa, langkah kaki pun terasa ringan  berdiri di depan jendela dan membukanya lebar-lebar untuk melihat pesawat yang mengukir kondenisasi dilangit dengan kata AKU PASTI BISA sebagai simbol semangat baru”


PUISI: SETENGAH HATI

Puisi

Setengah hati
Gundah yang berkelana di dasar hati
Masih menyisakan Tanya pada diri
Ke mana langkah harus mencari
setengah kepingan dari  yang memiliki

tanpa tanda dan petunjuk
setengah hati itu hanya tergeletak
begitu saja membuat Tanya membeludak
menyeluruh  dari isi hingga ke bentuk

setengah hati yang terlanjur hadir
sejatinya mengharapkan keutuhan
hanya ada dua pilihan untuk penyelesaian
mencari pengganti dari setengah hati yang hilang
atau meninggalkan setengah hati seutuhnya
lalu mencari keteguhan hati dalam keutuhan




Kamis, 31 Maret 2016

PERJALANAN

Perjalanan panjang adalah proses untuk kita melangkah tangga demi tangga keberhasilan, sebuah keyakinan yang akan mengantarkan itu menjadi sebuah kenyataan

Perjalanan
Jalan adalah sebuah sarana bagi seseorang untuk mencapai tujuannya. Ia tidak hanya bermakna sebagai tempat untuk dilalui oleh kaki, tapi jalan juga memiliki filosofi. Berbagai macam aksi dan reaksi saat mendengar kata itu. bagi seorang anak mahasiswi semester akhir jalan adalah sebuah jalur untuk menentukan masa depan. kenyataannya jalan itu tidak selamanya memilki jalur yang lurus ia mempunyai cabang cabang yang lain hingga terkadang membuat kita binggung untuk memilihnya.
Hidup itu pilihan, begitu juga jalan yang akan kita lalui itu adalah sebuah keputusan dari diri sendiri. Ketika sudah menentukan jalan hidup dan menentapkan tujuan yang ingin dituju maka saat itulah berbagai cara dilakukan. Sebelum kita sadar akan tujuan yang kita inginkan ada sebuah keadaan yang membuat kita terbangun bahwa “AKU HARUS BERUBAH” semangat pun berkoar-koar setiap proses yang dilalui.
Jalan  untuk mencapai sebuah kesukesan itu tidak akan membiarkan kita mudah untuk menapakinya. Kenikmatan terkadang berada di awal hingga membuat kita terbuai dan mengatakan ini adalah keberhasilan. Hingga lupa masih berapa KM lagi perjalanan yang harus dilalui itulah yang disebut persinggahan tipu daya. Manusia memilki kadar kepuasan dan mengatakan bahwa itu sudah cukup. Melepaskan mimpi besarnya begitu saja.
Roda kehidupan akan selalu berputar kadang kita berjalan di atas dan terkadang berada di bawah. Saat seorang sedang diuji kesungguhannya berada di bawah, tidak memilki apa-apa kehidupan yang terkadang membuatnya bingung dan terkadang tujuan dirinya pun tidak jelas. berbagai metode dan strategi masih tidak mampu untuk dirinya berjalan lebih cepat, hingga terkadang membuatnya lelah dan membuatnya singgah dan bahkan berhenti.

Masa lalu adalah sebuah pelajaran untuk menapaki bumi ini supaya lebih berhati-hati. Masa depan memang masih menjadi misteri, tapi ditangan orang yang berani bermimpi besar itu adalah sebuah masa di mana ketika akan memetik hasil jerih payah dari perjalanan itu. Hanya manusia yang mau berubah setiap harinyalah yang akan menikmati setiap keindahan dari hasil ujian yang dijalani secara tulus dan pantang menyerah dan menaiki tangga demi tangga keberhasilan dengan manisnya.

Rabu, 30 Maret 2016

ADA APA DENGAN MAS???

Ada apa dengan mas???
Ibaratkan teka-teki menjadi sebuah misteri hingga berujung pada tanda Tanya tentang dia yang kehilangan senyumnya seketika, hanya menyisakan ribuan pertanyaan di benak setiap orang,  “Ada apa dengan mas???”

Bibi, Ahjuma, Bahagia itulah panggilannya memilki kulit kuning langsat dan memilki banyak fans ketika hang out bersamanya. Tapi hari ini sungguh berbeda. rabu, 30 Maret 2016 menjadi sejarah ia kehilangan senyumnya. Saat orang-orang mengajak bicara ia bungkam tanpa sepatah kata pun. Menatap dengan tatapan kosong. Kulihat matanya memerah kemudian membengkak seperti orang habis menangis. Oh teman ada apa denganmu?
Kronologisnya kira-kira begini……..
Mata kuliah pertama pukul 07.30 tumben-tumbenya ia datang terlambat. Saat kuliah berlangsung ia masih tertawa dan bercanda dengan kami semua di kelas. masih cengar-cengir kiri kanan. Setelah mata kuliah pertama usai ia masih sama masih bisa menebarkan senyumnya. Tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan apalagi badai ia yang baru saja keluar dari WC dan ketika masuk ke dalam kelas ia menundukan kepalanya dengan wajah bermuram durja dan tidak menjawab teguran siapa pun.
Ada apa dengan kamu mas? Tidak seperti biasanya kamu. Kamu yang selalu kuat walaupun diterpa berbagai hal yang melemahkan. Kamu yang selalu menasehatiku saat berada dalam keterpurukan. Teman biasanya kamu bercerita tentang kepedihan itu tapi sekarang, mungkin sekarang butuh ketenangan untukmu menyelesaikan masalah dan orang tidak perlu tahu masalahmu. Mengenai itu aku hargai keputusanmu
Pesan untukmu teman, jika kau merasa sangat-sangat tak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi masalahmu. Maka dengan mengikhlaskan semua yang telah terjadi dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Ingat sob kita masih punya Allah yang selalu memberikan hambanya sebuah ketenangan yang hakiki. Memang saat-saat semester akhir sungguh membuat kita kebingungan tujuh keliling. Tapi percayalah genggam mimpi itu kuat jangan biarkan ia lepas dari cengkraman kita, yakinilah.


Selasa, 29 Maret 2016

DUA DEKADE


Dua decade banyak fenomena yang tak terduga dan  ketika berada di fase serba salah itu membuat hari-hari menjadi berstatus di ambang kebosanan
Dua dekade
Apa yang ada di benak setiap orang saat berada di fase 20 tahun? mungkin setiap manusia memiliki kebutuhan yang sama tapi tidak dengan keinginan. Ada banyak hal yang mewarnai umur yang merupakan gerbang menuju kedewasaan itu. Meninggalkan kata teen dalam kaidah bahasa sudah dianggap orang dewasa, meninggalkan umur belasan memang berat hingga tantangan hidup pun baru terasa campur aduk.
Hidup memang harus disyukuri, ikhlas, sabar dan qanaah. Semua itu tidak cukup untuk melalui hari-hari di masa depan, kenapa? Karena butuh sebuah mental baja untuk membentengi diri dari hantaman badai masalah. Masalah itu jika sering dipikirakan maka tak akan ada habisnya, tapi ada satu masalah yang harus kita cari sampai dapat, yaitu mencari masalah untuk tugas akhir di perguruan tinggi, skiripsi maksudnya!!! hehe
Pertengahan dua dekade yang banyak hal yang dipikirkan dan berkecamuk begitu hebatnya di dalam otak. Banyak penyesalan dari keputusan yang diambil. Hal yang tak pernah terduga, terjadi hingga menjadi buah pikiran dan belum menemui titik terang. Keresahan yang berkepanjangan menjadi pemicu utama keterpurukan. Intinya di umur inilah banyak yang mengalami fase serba salah akibat banyak desakan, ketegangan, kecemasan, dan harapan.
Masa depan pun menjadi tanda Tanya besar dalam mengarungi hari-hari. Akan jadi apa aku nantinya? Terus aku akan bekerja di mana? Terus bagaimana aku bisa membahagiakan orang tuaku? Kapan aku bisa mewujudkan keinginan orang tuaku? Atau apakah aku bisa mewujudkan cita-citaku? Itu adalah sebuah keinginan yang mulai goyah akibat benturan dari timur, barat, selatan, dan utara membuat hati dan pikiran menjadi dramatis dan dilematis.

Sebelum benar-benar memasuki fase dewasa, maka di depan pintu gerbang hendak menuju kedewasaan memang harus menyiapkan amunisi terbaik. Amunisi itu pun akan melindungi diri dari perusak-perusak kehidupan dan menembaknya hingga tak ada celah lagi untuk menggangu. Amunisi itu hanyalah diri kita sendiri yang bisa mengkonsepkannya sedemikian rupa hingga menjadi sebuah perwujudan harapan di masa depan.

Sabtu, 12 Maret 2016

CERPEN: PARTIKEL SEMANGAT UNTUK HUDA

Partikel Semangat Untuk Huda
Badai datang berkecamuk dalam dada tak henti-hentinya hendak menerobos partikel semangat yang susah payah dipersatukan dari dimensi yang berbeda, tapi pada hakikatnya kendali seluruh kehidupan ada di tangan Sang Pencipta.

Senyum manis kini tak pernah diperlihatkan sosok yang sering bercengkrama dengan kami. Kos Jamilah seperti kehilangan keceriannya, saat orang yang paling dikagumi seperti menutup dirinya. Huda Laila namanya, bahkan ia tidak peduli ketika anak kos yang lainnya membicarakannya. Ia hanya berlalu begitu saja di hadapan mereka dengan kondisi mata yang membengkak.
Murungnya kak Huda menjadi misteri bagi kami, terutama aku yang selalu salut di setiap kata yang ia keluarkan dari bibir mungilnya itu. Sebulan sudah ia seperti itu tidak mau berbicara kepada kami, apalagi menceritakan masalahnya. Tidak tega rasanya melihat keceriannya hilang begitu saja. Bahkan tidak ada satu pun di antara kami anak kos yang berani menanyakan langsung padanya.
Hingga pada suatu malam ia pun berteriak, sekencang-kencangnya membuat anak kos pada heboh, tapi tidak berani untuk melihat ke kamarnya.
“Shayyidah, kenapa kak Huda jadi begitu ya? Kamu kan paling dekat dengannya coba tanya gitu sama dia!”
“Bukannya aku tidak mau ya Von, dia itu setiap aku tegur nyahut saja tidak bagaimana aku mau bertanya padanya, setiap aku mau ke kamarnya pasti selalu di kunci”
“ada apa dengan kak huda? sungguh misteri sekali, apalagi ia paling tua di antara kita-kita di sini” Voni berkata sambil menerawang-nerawang
“Apa yang harus kita lakukan ya? Aku kasihan melihatnya seperti orang yang sudah putus asa, kondisi kamarnya saja sudah sebulan ini aku tidak pernah melihatnya lagi” aku pun berpikir sambil menopang dagu.
“Kalau begitu kita harus membantu kak Huda untuk tersenyum lagi, bagaimana?”Voni menemukan ide
“Aku setuju, kita susun rencana besok, dan satu hari itu kita sudah harus mengetahui permasalahan dan solusinya” kami pun sepakat
***
Pagi
Aku dan voni pun memulai untuk menjalankan rencana kami tadi malam, aku bertugas untuk mengawasi kamarnya dari kamarku yang kebetulan bersebelahan dengan kamarnya. Dan si Voni karena hari ini ada mata kuliah, dan ia pun akan bertanya dengan teman sekelas kak Huda, yang sering nongkrong di perpustakaan.
Kutunggu suara pintunya terbuka, tapi tak kunjung dibukanya. Suara tangisan sepertinya selalu menghiasi kamar kak huda, aku hanya berdoa saat kak huda pergi ke wc kamarnya tidak di kunci. Waktu yang kutunggu akhirnya tiba juga, suara pintunya dibukanya perlahan, aku pun siap siaga untuk menerobos masuk ke dalam kamarnya, kak huda pun masuk ke dalam wc. Aku bergerak seperti Charlie chaplin masuk cepat ke dalam kamarnya, aku tercengang saat masuk ke dalam kamarnya…………….
Siang
Saat mata kuliah usai si Voni pun mulai melancarkan aksinya untuk ke perpustakaan, terlihatlah kak Ina sedang mencari-cari buku.
“kak Ina, boleh tanya sebentar ini masalah kak Huda?”
“Kamu tidak lihat saya lagi sibuk cari buku”
“Ayolah kak, tidak kasihan apa lihat temannya seperti orang yang putus asa?” Tanya Voni sambil meyakinkan kak Ina untuk mengatakan yang sebenarnya.
Kak Ina pun menghela nafas sejenak “heeeeeeeeeeeeeeh”
Malam
Aku dan voni saling tatap-tapan
“Von aku tak pernah menyangka ternyata”
“Aku juga tidak pernah menduga akan seperti itu, Shayyidah”
“Tadi saat aku masuk ke kamarnya kak Huda yang kulihat adalah 12 kertas yang di tempelkan di dinding kamarnya bertuliskan judul skrpsi yang ditolak”
“Ya ampun sebanyak itu Sha, aku tak pernah menyangka, pantas kak Huda segitu galaunya”
“Tadi juga kak Ina teman sekelasnya bilang kalau kak Huda lagi kesusahan skripsinya. itu saja tadi, tapi ia tidak bilang sampai kalau kak huda judulnya ditolak sebanyak itu”
” Lalu apa yang harus kita lakukan Von? Masa kita diam saja, melihat saudara kita menderita seperti itu”
***
Tok tok tok
“Kak huda, miss you” aku memeluknya saat ia membuka pintu kamarnya dan Voni pun ikut memeluknya juga
“Ada apa kalian memelukku”
“Kak maafkan kami karena telat tahu apa yang sedang kakak alami. Kak jangan pernah putus asa”
“Kak kembalilah seperti dulu, Huda yang selalu menebar senyum kepada siapa pun, memberikan semangat kepada teman-temannya, pantang menyerah, dan berprestasi, mungkin kakak tidak pernah merasakan kegagalan sebelumnya dan inilah saatnya kakak diuji, kak ketahuilah bahwa dibalik kesuksesan seseorang pasti ia pernah mengalami kegagalan” Voni berusaha meyakinkan kak Huda
“Kak Huda itu beruntung loh karena memilki partikel semangat yang bisa menguatkan, pertama partikel yang bisa menguatkan kakak adalah harapan orang tua itulah terkadang yang bisa menguatkan kita, kedua, partikel dari kami teman-temanmu yang tak akan pernah meninggalkanmu kak, ketiga, partikel yang paling menentukan kehidupan kita kelak yaitu Allah kak. Cobalah untuk bangkit kembali, tawakal, sabar serta mengikhlaskan semua yang telah kakak lakukan, kami yakin kakak bisa dan mampu untuk menemukan judul yang ketiga belas ini. ingat partikel-partikel semangat apabila telah disatukan akan mengahasilakan kekuatan semangat mahadahsyat jika kakak memikirkannya” aku berusaha meyakinkannya kembali

Kak Huda pun memeluk kami, hingga matanya berkaca-kaca dan menjatuhkan butir-betir bening berisi air mata haru……..

Rabu, 09 Maret 2016

CERPEN: MIANHE

Mianhe
“Mianhe” adalah kata yang kubaca ketika kubuka sms yang masuk di hp. Pesan singkat itu sudah dikirim dari seminggu yang berlalu bahkan setiap hari, hingga hari ini. Pikirku ini orang maunya apa sih??? Pesan yang tidak kuhiraukan itu akhirnya kubalas juga.
“ Assalamulaikum, siapapun anda, tolong jangan ganggu orang seperti ini ya, terima kasih” kuketik kata-kata itu dengan setengah emosi.
“Ada apa sih Shaffiyah? Sepertinya kamu kesal sekali!” Novi menghampiri meja kerjaku.
“ini nih Nov, ada orang yang sms ke nomorku, setiap hari dari seminggu yang lalu, pesan yang sama lagi, kamu tahu apa MIANHE”
“Mungkin dia tahu kalau kamu suka nonton drama Korea kali ya”
“Tapi apa maksudnya, mengirimku kata itu. Yang jelas pekerjaanku jadi tidak kelar nih gara-gara memikirkan itu”
“Awas loh kamu nanti dimarahin Jeng Ana nanti, kalau dia sudah marah nanti urusannya jadi cetar membahana”
“Insya Allah pasti akan kuselesaikan, tinggal masangin payet-payetnya. Punyamu itu roknya juga belum  diselesaikan yak an???”
“Kalau begitu kita sambung ceritanya lain kali saja lagi ya, aku mau nyelesaikan roknya”
Kuhidupkan lagi mesin jahit untuk menyelesaikan kebaya pengantin yang sempat terbengkalai karena memikirkan hal itu. Walaupun aku terfokus pada  pekerjaanku tapi hatiku masih bertanya-tanya apa maksud dari pesan sigkat itu.
***
“Fiyah, tunggu. kita jalan sama-sama ya ke halte bisnya” Novi memanggilku dan bergegas menghampiriku kami pun berjalan bersama meninggalkan butik Jeng Ana.
“Nov, aku masih penasaran siapa ya yang mengirim sms itu, apa tujuannnya?”
“Mungkin ini ada kaitannya dengan masa lalumu mungkin?”
Aku terdiam sejenak apa mungkin dia ya? Pikirku. Bukankah ia tidak pernah menghubungiku lagi semenjak lulus dari smk itu.
“Shaffiyah, Shaffiyah, Shaaaaaffiyaaaaaah” Novi memanggilku karena melamun sampai lupa bis sudah tiba di depan halte.
“Oh iya, aku pergi dulu ya Nov. sampai ketemu besok”
Kulihat keluar jendela, hiruk pikuk keramaian kota diwarnai suara kelakson mobil ditambah cuaca yang tampak sayup-sayup menyambut senja menjuntai indah di langit yang berkelabu itu.  diriku pun terbawa lamunan  pada kisah di masa lalu.
***
“Hwathing joena”
“Dae oppa”
Itu adalah cuplikan drama Korea yang kami tonton di kamar kos dengan leptop milik Kim.
“Ya ampun sweetnya Yong Hwa itu, lesung pipitnya buat melting” kim berkata tanpa sadar.
“Gantengan si Kim Won, cocok lagi sama si Yuri” aku menyangkalnya
“tetap si Yong Hwa lah, kan Yong Hwa pemeran utamanya”
“Aku udah dulu deh nontonya, mau ngerjain desain dulu. Kamu juga Kim besok lagi ngelanjutinnya”
“Besok sajalah desain itu gampang” ia masih terpaku pada drama Korea itu
Aku menggeleng-geleng kepala. Kugambar pola baju, untuk tugas akhir ujian praktek di SMK. Beberapa desain telah kubuat. Hingga kulirik si Kim masih saja asyik dengan drama Koreanya. Tanpa sadar aku pun tertidur karena kelelahan saat membuat desain baju dengan sentuhan batik itu.
Keesokan harinya, kim seperti tampak binggung aku sudah duga pasti dia tidak mengerjakan desain itu.
“Kenapa Kim???” aku pura-pura bertanya
“Fiyah ottoke???? Aku belum buat desainnya” wajahnya begitu panik.
“Ya udah ambil punyaku saja, semalam ada beberapa desain yang kubuat” aku memberikannya solusi, karena ia juga sering membantuku dalam meminjamkan laptop miliknya untuk mengerjakan tugas.
“Gomawo oppta joana” dia memelukku.
Begitulah persahabatan yang kami jalani, memiliki keinginan yang sama membuat aku dan Kim seperti saudara kandung, pertemanan itu pun sudah dijalani sejak masa-masa SD, hingga memutuskan masuk SMK di jurusan fashion desainer. Ada satu impian yang sangat kami ingin lakukan bersama-sama adalah mengunjungi negeri oppa-oppa ganteng itu, Korea Selatan.
Dalam penantian pengumuman kelulusan masa akhir sekolah, kami masih berada di  kos, sambil menentukan masa depan yang akan dijalani selanjutnya. Saat kupinjam leptop Kim, tanpa sengaja muncul informasi tentang beasiswa luar negeri di Korea Selatan bidang desain pula. Aku pun memanggil Kim yang sedang asyik membaca tabloid tentang artis Korea itu.
“Kim, Kim, Kim. Sini deh ada hot news nih” aku memanggilnya dengan wajah bersemangat
“Apaan sih Fiyah???”
“ Ini nih Kim, akhirnya doa kita dikabulkan ya. Beasiswa di bidang Fashion Desainer dari Universitas Korea Selatan membuka peluang untuk lulusan SMK di Indonesia, syaratnya Cuma bisa bahasa Inggris dan menyertakan desain terbaik aja tuh” kami berdua saling tatap-tatapan dan berteriak
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” sampai penghuni kos yang lainnya memarahi kami.
“Bahasa Inggris udah makanan kita sehari-hari itu gampang yak an Fiyah, tapi desainnya itu apa ya. Ya udah mulai dari sekarang kita kumpulkan energy untuk menuangkan ide tentang pola terindah yang akan mengantarkan kita menuju masa depan yang cemerlang”
“Keren banget kata-katamu Kim, syukur kita diwajibkan bisa berbahasa inggris di SMK ya. Alhamdulillah deh pokoknya.”
Saat itu, aku dan Kim sibuk mengumpulkan ide untuk mengoreskan desain di atas kertas. Akhirnya kutemukan ide untuk membuat desain baju kombinasi antara baju hanbok baju tradisional Korea dengan sedikit batik sebagai pemanisnya, kugambar batik bermotif bunga dengan telaten.
Segala berkas telah kami urus dan telah dikirim kepada pihak penyelengara, Hanya tinggal menunggu proses wawancaranya saja.
“Fiyah idemu tentang apa” Tanya Kim kepadaku, karena keesokan harinya setelah seminggu mengirim desain itu aka nada sesi wawancara, kami pun berlatih bersama-sama
“Ideku cukup simple kok, desain kombinasi antara batik dan juga hanbok itu loh baju tradisional Korea, dengan sentuhan warna monokromatik menjadikannya elegan dan sederhana cocok di pakai oleh semua kalangan wanita baik itu dari anak kecil, remaja, dewasa, bahkan nenek-nenek. Bentuk handbook yang lengan seperti baju terusan berlengan panjang jadi cocok untuk di mix and mach dengan apa pun terutama mereka yang berhijab juga jadi tertutup dan lekukan tubuhnya tidak terlalu kelihatan. Inti dari desain ini adalah sederhana, istimewa, dan ekonomis kalau mau dijual sih, hahahahaha”
“Wah, keren-keren. Persentasi yang spektakuler sekali.” Kim bertepuk tangan menyatakan selamat padaku.
“udah malam nih, tidur yuk. Kita harus tidur cepat biar besoknya tidak ngantuk pas wawancaranya”
Matahari tampak begitu secerah semangat kami untuk menjalani tes wawancara, senyum dan saling menatap saat berjalan menuju ruangan, tapi hati tak bisa menyembunyikan perasaan degupan kencang hampir-hampir membuat jantung mau copot.
“KIMISHA HANARIYANTI silahkan masuk kedalam” Kim pun dipanggil mendahuluiku untuk melakukan sesi wawancara
Beberapa lama kemudian namaku dipanggil.
“SHAFFIYAH SALINA silahkan masuk” degupan jantungku seperti diberi mikerophon hingga suara keras begitu hebatnya.
Pewawancara itu pun mulai mengintrogasiku.
“Kamu dari Smk Tunas Harapan ya, sepertinya desain kamu hampir mirip dengan yang sama dengan yang tadi”
Tiga orang pewawancara itu pun saling berpandang-pandangan.
“Sebenarnya desain kamu ini sangat menarik. Tapi maaf beasiswa ini hanya diperuntukan untuk satu orang di satu sekolah saja, jadi kami rasa peserta yang sama dari smk kamu tadi sudah sangat menarik dengan presntasinya”
Rasanya aku ingin pingsan, menangis, teriak, dan memberontak saat itu juga.
“Kalau boleh tahu peserta yang satu sekolah dengan saya terus desainnya juga hampir mirip itu siapa ya pak?”
“Kimisha Hanariyanti” aku melotot dan tak pernah menyangka orang yang sangat-sangat aku percayai tega menghiyanatiku seperti ini. aku berjalan tak tentu arah dan jejak Kim tak pernah kuketahui lagi.
***
“Mbak, mbak, mbak udah nyampai” tanpa sadar air mataku jatuh hingga membuat kenek bis pun kaget saat melihatku.
Tidak berapa lama kemudian aku turun dari bis pesan singkat itu kembali muncul dari hp “MIANHE”
“Aku tahu sekarang ini kamu kim, kenapa baru sekarang kata maaf itu baru kamu sadari harus kamu lakukan untuk menebus kesalahanmu” aku mengetik pesan itu sambil menahan air mata
“aku malu fiyah, untuk menemuimu sejak hari itu, aku baru menyadari bahwa sukses yang aku dapat di Seoul tidak akan pernah berkah jika diawali dengan kelicikan untuk mendapatkannya, mianhe Fiyah, aku benar-benar takut karena bayang-bayang saat aku harus mencuri mimpi indahmu” ia membalas pesanku begitu panjangnya
“penghianatan begitu hebatnya akan tersandera dua pilihan dendam atau memaafkan, tetapi nurani tidak akan pernah tega untuk melukai dengan cara yang sama, karena kupercaya semua ini adalah takdir terbaik yang diberikan Tuhan”
“Izinkan aku untuk menghapus pola dusta yang telah kugoreskan di atas kertas putih yang terlalu lama kusimpan selama ini”
“Kim, Fiyah akan selalu mendoakan kesukesanmu menjadi fashion deainer seperti yang kamu inginkan jangan lupa salam ya sama oppa di sana ya, hehehehe”

ARTI KATA YANG DIMIRINGKAN
MIANHE: MAAF
HWATING JOENA: SEMANGAT SAYANG
DAE OPPA: IYA ABANG
SWEET: MANIS
MELTING: MELELEH
OTTOKE: BAGAIMANA
GOMAWO OPPTA JOANA: TERIMA KASIH SAYANG
MONOKROMATIK: WARNA SENADA