Jumat, 13 November 2015

Buku Pengobat Galau Part 2


Wonderful Life

Saat melihat buku ini, yang ada dipikiranku adalah keren, dari gambar covernya saja sudah menunjukan bahwa buku ini didesain dengan art yang begitu tinggi, setelah ku buku lembar demi lembar buku yang ditulis oleh Amalia Prabowo diterbitkan pada tahun 2015, di Jakarta, oleh Pt Gramedia, berjumlah 169 halaman ini membuatku bertanya kenapa di setiap jeda lembarannya selalu disuguhkan gambar yang tidak biasa?



Awal dari bab tentang ME, si penulis bercerita tentang perjalanan hidupnya dari masa kecilnya berada dalam didikan yang disiplin hingga menghantarkan ia untuk mendapatkan prestasi akademik yang memukau, hingga ada satu pesan yang memikat hati, darinya “Kemalasan itu penyakit yang paling berbahaya, jangan pernah penyakit malas hinggap pada dirimu, ia akan menindasmu, dunia akan runtuh, masa depanmu akan gelap” dan kata ini juga bisa membuat pembaca berhenti sejenak untuk meresapinya “Hidup adalah perjuangan untuk memenagkan persaingan, tidak ada tempat bagi orang-orang malas di kehidupan ini, mereka akan malas dan tersingkir, mereka akan menempati posisi terbawah”

ada sebuah hal yang harus kita  ketahui bahwa tidak akan abadi sebuah keadaan di mana kita akan selalu berada di puncak, maka ada kalanya kita berada di bawah, dan saat berada di posisi tersebut, ikhlas adalah hal terindah yang harus diterapkan seseorang, karena itu merupakan proses menuju puncak kesuksesan yang lebih tinggi lagi.  Sebuah penolakan, yang penulis alami merupakan sebuah cerminan untuk kita menjalani kehidupan dengan tabah, karena masih banyak lagi orang yang nasibnya tidak seberuntung kita sekarang ini.


Di bagian dua tentang HIM penulis menceritakan tentang kehidupannya yang baru bersama buah hatinya. Ketika kesuksesan telah diraihnya Tuhan mengujinya lagi melalui anaknya yang menderita disleksia. Hati ibu mana yang tidak teriris sembilu saat mendengar anak yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya akan jadi seperti itu. garis keturunan yang berintelektual, mustahil baginya bahawa keturunannya mengalami penyakit tersebut.

kesibukan dalam kesuksesan sempat membuatnya terlena hingga mengabaikan anaknya, itu memang  hal yang manusiawi, karena manusia merupakan tempat khilaf dan salah. Tapi yang membuat pembaca salut dengan seorang ibu tunggal dengan dua orang anak ini adalah keputusannya untuk berusaha menyembuhkan penyakit tersebut, namun tidak ada satupun pengobatan yang berhasil, hingga pada satu titik, saat sang anak sedang menggambar  si ibu merasakan telepati yang begitu kuat bahwa dengan melukislah sang anak menemukan bakat yang sesungguhnya, meski disleksia itu tak dapat disembuhkan, hal tersebut karena ia percaya pada kekuatan energy positif yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Ada beberapa kata yang bisa kita renungi bersama “Keluarga adalah salah satu sumber kekuatanku dalam menghadapi kejamnya hidup”



Bagian ketiga tentang US, berkisah tentang si penulis dan kedua anaknya. Aku terhenti sebentar saat membaca bahwa terkadang Tuhan menitipkan nasehat atau solusi melalui mulut atau ucapan orang lain, hingga kerapuahan perlahan berubah menjadi sebuah semangat untuk berjuang kembali. Dan sang penulis berhasil menemukannya, hal tersebut bisa terlihat dari kata-kata indah yang dilukiskannya “Ternyata komunikasi membutuhkan wahana, ia tidak terjadi dengan sendirinya, wahana itu harus kita ciptakan” juga “ketika aku mulai membuka mata dan hati, aku kian merasakan berkah tuhan, kasih sayang tuhan”

Cerita tersebut sebagai peringatan kepada kita, bahwa tidak ada manusia yang hidupnya sempurna. Dalam keterbatasan terkadang kebahagiaan itu dirasakan saat berjuang menghadapinya. Seorang yang sukses dalam karirnya saja diberi ujian melalui anaknya, itu pertanda bahwa Tuhan menegur kita agar jangan terlena dalam sebuah kesuksesan yang hanya sementara. Pada halaman terakhir ini pertanyaan ku terjawab sudah. kulihat pada halaman awalnya bahwa sang ilustratornya Gambar cantik nan indah ini adalah karya dari seorang anak yang bernama  Aqqilurachman A. H. Prabowo yang juga menderita disleksia, kejutan yang tak terduga bagiku untuk mengakhiri buku ini.

Catatan di akhir tulisan, bahwa keterbatasan tak akan membatasi kita untuk berkarya, hanya ada kemauan saja, juga sebuah keyakinan yang kuat semua itu bisa terjadi, hal tersebut telah dibuktikan melalui kisah seorang ibu tunggal yang begitu sukses yang memilki anak menyandang disleksia. Meski sempat terkatung-katung memilih arah mana yang harus di tempuh, saat itu lah Tuhan mulai memperlihatkan titik terng secara perlahan, dan hasilnya sangatlah berlipat-lipat nikmat kebahagianan. Aku ingin menyampaikan bahwa, membaca kisah kalian memberiku semangat baru dan bersyukur atas nikmat yang diberikan, dan akan terus berkarya meski sederhana.

perlu tahu!!!




Kamis, 12 November 2015

Kau Banyak Menginspirasiku, Teman




Kau banyak menginspirasiku, teman

Kali ini aku akan menceritakan, sebuah inspirasi dari seorang teman yang bernama nurhaliza na, yang biasa dipangil Nur, Liza, Iza, dan Ja. Tapi aku memanggilnya dengan nama Ja. kelahiran Balai Karangan, 21 juli 1996,  merupakan anak ke-2 dari 4 bersaudara. Aku sudah mengenalnya sejak duduk di bangku smp.  Saat duduk di kelas VII kami hanya sekedar bertegur sapa biasa saja. Tapi, kami dipertemukan di kelas VIII A, sejak saat itu aku mulai berteman dengannya.

Sejak SMP aku memang sudah kagum dengan kejeniusannya. Sosoknya yang kalam, tidak memperlihatkan bahwa ia adalah seorang yang sangat pintar. Namun kepintarannya itu sempat dimanfaatkan oleh orang yang bisa dibilang sangat dekat dengannya. Saat SMP ia hanya bisa meraih juara 2, dan ia selalu bercerita tentang someone specialnya, tapi ia kembali memukau lewat ujian nasional yang merupakan nilai tertinggi kedua.

Aku baru benar-benar mengenalnya pada saat SMA, dikarenakan kami duduk sebangku sejak di kelas X A. Aku banyak belajar tentang kehidupan darinya. Belajar untuk hidup hemat dan sederhana, yang dulunya aku begitu boros hingga sekarang masih aku aplikasikan dalam prinsip hidupku. Karena kau juga teman aku berusaha menjadi orang yang mempertahankan kejujuran apalagi saat ujian semester, pengalaman pernah dikhianati orang terdekat yang memanfaatkanmu, mungkin memberimu pelajaran, dibalik semua itu ada hikmah yang didapakan yaitu sebuah pendewasaan.

 Meski umurmu yang masih muda, tapi pendewasaan selalu diperlihatkan disetiap gerak-gerik langkah hidup yang kau jalani. Aku terkesima saat kau bercerita padaku bahwa pernah bekerja di PT Sawit sebagai buruh pemotong rumput,  merasakan berdiri di antara mereka di atas truck pengangkut pekerja sawit, juga merasakan keringat menjadi seorang buruh tidaklah mudah, kau belajar memperoleh uang dengan hasil keringat sendiri, kau juga pernah mengikuti orang membuat kue lebaran, hampir di setiap bulan puasa saat SMA ia mengikuti mereka, tidak hanya uang yang didapatkan melainkan juga belajar pembuatan kuenya juga diberikan kue lebarannya.

Namun, aku salut dengannya urusan pribadi  tidak pernah mempengaruhi kefokusan sekolahnya. Ia adalah sosok yang memilki tingkat kefokusan yang tinggi, itu terbukti saat ulangan semester 1 di kelas X pada saat itu ia bisa dibilang sedang sakit demam, tapi hasil ulangannya begitu menghebohkan satu sekolahan, ia mendapatkan nilai yang sangat sempurna yaitu 100, hingga itu yang menjadi tolak ukur orang tua banyak menyekolahkan anaknya ke SMA kami, bahkan orang-orang di dalam sekolah hingga di luar sekolah mengetahui hal tersebut. Aku pun tak pernah menyangka bahwa kekuatan kefokusan bisa mengalahkan keterbatasan yang kita milki.

Kehebohan itu membawanya menuju peringkat juara umum di sekolah, dan kami membuktikan bahwa apa yang mereka katakan bahwa IPS 3 adalah kelas buangan itu tidak benar, kami membuktikan lewat prestasi yaitu melalui juara umum oleh Nurhaliza dari kelas X hingga kelas XII,

Aku juga belajar tentang sebuah keikhlasan, saat kita merasa ditindas sebuah ketidakadilan. Hal itu menyangkut tentang kepantasan, saat itu ada ada sebuah olimpiade sains atau lebih dikenal OSN, memang pada awalnya namanya dipanggil karena yang akan mengikuti kegiatan tersebut satu pelajaran dua orang, namun karena ada perubahan teknis hal tersebut diubah dan oleh guru pun ia tidak dipilih untuk mengikuti kegiatan tersebut dan ia lebih memilih peserta yang satunya, menurutku itu sangatlah tidak adil, prestasi juara umum sudah jelas ia dapatkan, kurang apa lagi untuk membuktikan sebuah kepantasan, tapi ia tidak pernah protes. Pada saat itu juga aku yang awalnya menjadi peserta pun akhirnya memutuskan untuk mundur dari olimpiade tersebut, karena aku tidak suka sebuah ketidakadilan, dan belajar untuk mengikhlaskan dan percaya akan ada yang terbaik di masa depan.

Tahukah teman,  kau banyak menginspirasiku, bahkaan kau merupakan gerbang awal aku mengenal dunia tulis menulis. Kata penulis aku kenal dari mulut mu. Dulu aku mengira menjadi seorang penulis itu karena tulisan tangannya bagus, namun seteleh proses yang begitu panjang akhirnya aku tahu bahwa hakikat dari sebuah arti menulis itu, memilki makna yang begitu besar untukku sekarang. Teman tahukah engkau saat engkau menggoreskan pena dengan tintatnya yang menari-nari di atas kertas kosong mengukir bahwa kau ingin menjadi penulis, hal itu membuatku merasa anah, dan itu merupakan cit-cita yang konyol, tapi pikiran itu sekarang berbalik, bahwa seorang penulis itu adalah sebuah panggilan jiwa, yang tidak hanya menulis di kertas tetapi menulis yang menyentuh hati orang-orang adalah cita-cita yang paling mulia.

Itulah awal aku mengenal dunia tulis menulis, terima kasih teman karena telah menjadi inspirasi di bagian hidupku. Mungkin kita tidak bisa sering bertemu seperti dulu lagi, bercerita tentang banyak hal, tapi tahukah kau bahwa aku merindukan masa-masa itu, bercerita tentang impian-impian kita juga tentang masa depan.
Walau kita berada di dimensi yang berbeda sekarang, aku tak kan melupakanmu teman, seumur hidupku. Aku masih ingat saat kita mengurus beasiswa, hingga berbulan-bulan tak tentu arah mengurus surat menyuratnya, dari situ juga aku banyak belajar tentang sebuah keyakinan. Karena itu kau dan keyakinanmu membawa ke dirimu yang sekarang, sedangkan aku yang dengan keyakinan yang tak pasti membawaku ke sebuah stagnan di hidupku.

Ketika Koran itu membawa kabar berita bahagia dan juga kabar duka. Kaulah yang dipilih untuk mendapatkan keberkahan dengan namamu tercantum diterima menjadi mahasiswa akuntansi dengan beasiswa penuh, sedangkan debut pertamaku dikoran mendatangkan kabar duka namaku masuk dalam kolom cadangan di kolom bahasa dan sastar Indonesia, hingga berbulan aku terkatung-katung menunggu sebuah ketidakpastian. Semoga suatu hari nanti nama kita akan terukir dengan prestasi memukau di Koran, amin.
Dari kegagalan yang kita alami, ada banyak hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran. Kita harus merelakan  terhadap apa yang kita perbuat, jika keyakinan bisa membuat semua hal menjadi nyata, maka kita butuh hal yang bisa menginspirasi kita untuk bertahan di rasa itu, dan kurasa kau adalah bagian dari orang yang berpengaruh dihidupku, teman. Semoga apa yang kau inginkan menjadi kenyataan  dan menjadi orang yang bisa membanggakan orang tua, agama, dan bangsa.

Dengan menulis tentangmu, sedikit meringankan ketegangan hidup yang akhir-akhir ini aku alami, semoga setiap curahan hati ini akan mendatangkan semangat baru untuk kita. Mungkin kau pernah merasakan ujian yang begitu berat dalam hidup, tapi pertahankanlah sikap keikhlsan itu. berdamailah dengan masa lalumu yang menyakitkan, juga mereka yang pernahmenghiantimu, percayalah semua itu hanya proses untuk membawamu pada puncak keberhasilan. Terima kasih teman, inspirasimu hidup dalam setiap gerak nafasmu, semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi setiap orang yang membaca tulisan ini.




Rabu, 11 November 2015

Buku Pengobat Galau Part 1



Life’s Journey

 Saat membaca buku Lifes Journey karya bapak Komaruddin Hidayat, dicetak pada tahun 2013, yang berjumlah 280 halaman. Diterbitkan di Jakarta oleh Noura Book. Gaya bahasanya yang santai namun mendidik cocok dibaca semua kalangan. Buku ini membicarakan tentang menyemangati seseorang dalam pandangan psikologi, karena memang beliau ahli dibidang psikologi dan terkenal dengan buku Psikologi Kematian.

Buku Lifes Jorney ini dipinjam di perpustakaan daerah provinsi Kalimantan Barat, dan selesai membacanya sekitar 6 hari. Alasan mengapa memilih buku ini, kronologisnya sebagai berikut, dikarenakan semangat mulai menurun, ada sebuah inisiatif untuk mencari buku motivasi, dan pada saat melihat deretan buku motivasi, buku ini tidak menarik perhatian, tapi setelah dipikir-pikir aku memutuskan untuk mengambil buku ini. Aku suka buku ini adalah karena bahasanya yang santai dan tidak bertele-tele  sangatlah keren. Hingga ada beberapa kutipan dari buku ini yang kurasa patut diselipkan sebagai arsip bahwa aku pernah membaca buku ini, berikut kata-katanya.

Halaman 87 memuat kata-kata “Dalam diri manusia terdapat dorongan laten untuk menjadi sang alturi, yaitu perasaan bahagia melihat dirinya bermakna ketika sanggup membahagiakan orang lain.”

Karena berhubung hari pahlawan aku juga suka dengan kata-kata ini “Kita pantas berbangga dan respek kepada para pejuang pendiri bangsa dan Negara, tanpa mereka kita tidak akan merasakan bebas dalam hal apa pun"

Di halaman 102 ini membuatku menganggukan kepala sambil memelototinya “Dalam setiap diri manusia selalu tersembunyi bakat yang hebat untuk menciptakan karya yang hebat pula. Setiap individu memiliki talenta untuk berbuat besar sebagai warisan hidupnya.” 

Ini yang wajib kita ketahui “Tiga pilar kebahagiaan seseorang, yaitu having a good family life, having a good job, dan having good friends and community.”

Kata-kata ini membuatku tersadar kata-kata yang sering diucapkan pada seseorang tanpa seni, menjadikanya sebuah seni topik dalam tulisan “Sibuk seakan menjadi mantra baru. Ketika bertemu teman, dulu orang masih sempat berbincang-bincang tentang kehidupan keluarga dan cerita hobi masing-masing. Sekarang semuanya telah berubah, pertanyaan yang kerap muncul adalah: sekarang lagi sibuk apa?”


Memang ada banyak kata-kata yang menggigit dalam buku ini, tapi rasanya hati ini belum mengena, dan membuatku untuk tidak berhenti mencari buku-buku seperti ini lagi. Jika kalian ke PUSDA jangan lupa baca buku ini ya, hehehe.

Selasa, 10 November 2015

read a book by Pramoedya AT





Huruf

Wahai huruf, Bertahun kupelajari kau,
Kudekati faedah dan artimu, Kudekati kau seban hari,
Saban aku jaga, Kutatap dikau dengan pengharapan,
Pengharapan  yang tidak jauh. Dari Hendak ingin dapat tahu.

Tetapi kecewa hatiku. Kupergunakan kamu
Menjadi senjata di alam kanan, Belum juga berfaedah
Seperti yang kuhendakan. Selalu dikau kususun rapi
Di atas kertas pengharapan yang maha tinggi
Tetapi….
Bilalah aku diliputi asap kemenyan sari,
Tak  kuasa aku menyusun kamu Hingga susunan itu
 dapat dirasakan pula oleh segenap  dunia
Sebagai yang kurasa pada waktu itu.

Alangkah akan tinggi ucapan Terima kasih,
bilalah kamu menjadi buku terbuka,
Bagi manusia yang membacanya
Kalaulah aku direndam lautan api,
Hendaklah kamu merendam pembacamu

Bilalah aku disedu pilu, Hendaklah kamu merana dalam hatinya.
Huruf, huruf…….
Apalah nian sebabnya maka kamu Belum tahu akan maksudku.,


saat membaca rasanya menggelinding seperti judul bukunya. Buku ini memang sudah lama diterbitkan sekitar tahun 2004, berjumlah 576 halaman tapi, ini merupakan buku yang harus dibaca oleh mahasiswa sastra atau orang yang menyukai sastra, siapapun ia juga harus membaca buku ini. dari halaman awal pembaca disugguhkan dengan puisi tentang huruf, yang membuat orang-orang jatuh hati untuk membacanya.
Bapak Pramoedya Ananta Toer menulis buku ini dengan sepenuh emosi yang begitu kuat. Hingga pembaca bisa merasakannya lewat kata-kata dalam ceritanya. Buku ini juga berkisah tentang sebuah kritikan tentang kehidupan baik itu pemerintahan, sastrawan, juga tentang bahasa Indonesia.

Ada kata yang kusuka saat membaca buku ini terlihat pada halaman 313 “Penaku menggigil, dan tinta mengotori tanganku. Berulang-ulang pesawat melampaui  tinggi enamribu meter, dan tinta bocor dari tangkinya, membocori kantong pena dari kantong pelastik hingga kini bocor – terus membocori jari. “ begitu puitisnya kata-kata ini hingga bisa membius orang untuk terus membaca buku ini

Aku banyak belajar dari seorang Bapak Pramoedya Ananta Toer, meski terkadang bahasanya sulit dimengerti, akan tetapi banyak pelajaran yang didapatkan seperti sebuah kritikan itu tidak harus ditulis dengan gaya yang tegas dan kaku, dengan tulisan yang santai namun serius juga dibungkus dengan cerita membuat buku sangat menarik untuk dibaca.


Senin, 09 November 2015

Menanti senja di khatulistiwa



Menanti Senja di khatulistiwa

Berdiri di antara tembok yang memisahkan sungai dan daratan adalah saat yang menyenangkan. Melihat ke arah sungai Kapuas yang luas, seakan carut marut pikiran terasa hilang  bersama hembusan angin. Meresapi belaian angin terasa segar karena sensasi aromaterapi bau tanah sehabis hujan. Hujan di hari Minggu membawaku ke petualangan ini, tiada kata yang tepat menggambarkan suasana hati saat itu selain kata “Amazing”

Minggu, 1 Oktober 2015, aku bersama temanku yang kupanggil Muam pergi ke kampung halamannya di Segedong. Hal tersebut memang sudah lama direncanakan, tapi baru direlisasikan sekarang. Ada sebuah keraguan saat hendak pergi ke sana, karena bentrokan dengan jadwal wawancaraku untuk masuk grup menulis nasional. Aku beranggapan bahwa hujan adalah pertanda rencana itu bukanlah yang terbaik dan rencana pertama adalah sebuah janji yang harus ditunaikan.

Setelah keraguan itu mualai hilang, Aku hanya berharap dan menantikan senja di Minggu sore, setelah semua perjalanan yang dilalui. Pukul 09. 30, motorku melaju di antara suasana mendung, kami melalui Siantan, kemudian Batu Layang, lalu Wajok, dan Jungkat, hingga akhirnya sampailah di Segedong. Di tengah perjalanan pada saat melalui Jungkat hujan sangatlah deras, hingga harus berteduh sejenak. Sekitar setengah jam hujan pun belum reda-reda, kami pun memutuskan untuk menmbus hujan yang tidak terlalu kuat.

Sesampai di rumah Muam, ada sebuah pemandangan indah saat seorang ibu menunggu kedatangan anaknya di teras rumah. Terlihat juga seorang adik kecil yang imut dan manis menanti kedatangan kami.  Sebuah pelajaran baru di mana kita berada di tempat yang belum pernah didatangi, meski hanya setengah hari, tapi banyak pengalaman yang aku dapatkan dari keluarga kecil ini. Terutama saat bersama adik permpuan Muam yang bernama Fitri berusia 7 tahun, ia mudah sekali untuk mengakrabkan diri. Keceriaan gadis kecil ini memberiku inspirasi untuk menjalani hidup lepas tanpa rasa kaku.

Suasana Minggu siang yang sayu, memberikan rasa nyaman saat bersantai di teras rumah temanku ini. Di tengah rintik-rintiknya yang tanpa henti, Fitri yang comel dan mengemaskan bercerita tanpa jeda kepadaku tentang sekolah dan temannya, hingga mengundang tawa yang tak tertahankan. Sementara itu Muam dan ibunya yang berada di dapur ikut tertawa mendengar suara Fitri yang lantang hingga terdengar sampai ke dapur. Kedua keluarga antara anak dan ibunya ini, melepaskan rasa rindu dengan memasak bersama hingga selesai.

 sampai akhirnya hujan pun  mulai reda, temanku pun mengajak untuk pulang pada pukul 15. 30, karena kata ibunya biasanya hujan di Segedong tidak akan benar-benar reda hingga malam hari. Mendengar pernyataan seperti itu kami pun pulang setelah makan. Sebenarnya aku masih ingin lama-lama di sana, karena ingin mendengar lebih banyak lagi cerita dari Fitri.

Motorku pun melaju pergi meninggalkan Segedong dengan rintik-rintik hujan yang masih tersisa. Ada beberapa rencana yang kami ingin lakukan selain pulang kampung Muam, yaitu berwisata di Jungkat Beach. Pada pukul 16. 15, tibalah aku dan temanku di sana, suasannya cukup sepi, mungkin karena faktor hujan. Setelah membayar tiket masuk sebesar 5.000, motorku pun melaju menuju batas antara Sungai Kapuas. Saat melihat sungai yang masih terasa mendung, aku hanya berharap bisa melihat senja yang indah di batas sungai dan langit, meski tak bisa melihat lembayungnya, tanda-tanda kemunculannya saja sudah cukup bagiku.

Senja adalah fase yang paling indah dan romantis, salah satu impianku adalah berdiri menatap langit untuk menyaksikan fase demi fase hingga membentuk senja yang indah. Di sana aku tak hanya menanti senja, tapi juga berfoto-foto di beton pembatas antara sungai dan daratan, ada beberapa wahana yang ditawarkan seperti bebek engkol kemudian memancing. Pada saat berkeliling kolam untuk mencari engel foto yang bagus tiba-tiba ada beberapa bapak-bapak yang lagi menuunggu pancingannnya dan seeorang dari mereka bertanya “Bagaimana dek pendapat kalian di sini”, dengan penuh senyuman kami menjawab “Lumayan Pak”.

Jam sudah menunjukan pukul 16. 40, hingga kami pun bergegas untuk pulang menjalankan misi selanjutnya untuk pergi ke Tugu Khatulistiwa. Sesampai di sana, jam menunjukan pukul 17. 01, masuk ke dalam area tugu hanya cukup membayar parkiran sebesar 2000 rupiah. Tapi, sayangnya kami tidak bisa masuk ke dalam tugunya sehingga hanya bisa berfoto di sekitar tugu saja. Saat kami mengambil gambar ada seorang tentara yang cukup tampan, sehingga temanku tanpa sadar mengatakan “Kita foto yuk dengan abang tentara itu” aku hanya tercengang mendengar perkataannya, tak disangka teman si tentara itu mendengar perkataan temanku tadi ia pun berkata “Foto aja dek dengan abang ini, kebetulan si abang ini lagi jomblo”. Temanku langsung memerah mukanya, rasanya muka ini tebal mendengar perkataannya tadi, si temanku ini pun sebenarnya ingin mengiakan tapi kutahan. Tapi kalau dipikir-pikir kenapa tentara itu ada di situ ya? Jangan-jangan emang mau cari jodoh. Hahaha.

Tidak banyak kata yang ingin kusampaikan untuk mengakhiri tuliasan ini mungkin hanya saat kita berada di tempat yang berbeda kita akan banyak belajar hal-hal baru, itulah yang akan membawa kita pada sebuah proses pendewasaan diri. Di akhir kata, terima kasih ibunya Muam atas makanannya yang enak, kemudian juga Fitri semoga selalu diberikan kelancaran dalam menuntut ilmu, juga Mu’ammaliah jangan keseringan galau.

Danke, Sob Muam Miss Kepo

SUASANA DI JUNGKAT BEACH


MISS KEPO LAGI BERPOSE





Rabu, 04 November 2015

weekend in parit surabaya



Weekend In Parit Surabaya, Sungai Ambawang

Tumpahan tinta kali ini yang akan membawa pena tinta untuk menulisakan pengalaman di akhir pekanku di Parit Surabaya.  Sabtu, 17 Oktober 2015 membawa aku dan temanku yang bernama Masruroh untuk pulang ke kampungnya di desa Parit Surabaya, kecamatan Sungai Ambawang. Di bawah sinar matahari yang mulai redup perjalanan ini pun dimulai.

Kami memutuskan untuk pergi di hari sabtu setelah mata kuliah selesai. Pada hari itu mungkin bisa dibilang hari keberuntungan karena, dosennya ke luar kota. Sebenarnya hari Sabtu adalah hari padat karena kuliah dari 07. 30 hingga 17. 50, dengan 4 mata kuliah. Kuliah berakhir pada pukul 14. 45, sehingga kami bergegas untuk packing dan bersiap-siap untuk berangkat, kendaraan yang digunakan adalah motor beat putih.

Perjalanan yang dilalui mulai dari jalan raya yang beraspal hingga masuk ke jalan yang hanya motor saja bisa melaluinya. Untuk sampai ke Parit Surabaya harus melalui penyebrangan sungai yang tidak terlalu besar, namun karena tidak ada jembatan mengharuskan orang-orang melakukan penyebrangan dengan perahu atau lebih dikenal dengan motor kelotok. Setelah menyeberang perjalanan dilanjutkan dengan melalui jalan yang putus nyambung-putus nyambung dan hanya bisa dilalui motor saja disertai lobang yang bisa dibilang cukup banyak. Apalagi rute perjalanannya yang banyak belokannya membuatku susah untuk mengahapal di mana letak desa Parit Surabaya.

Sesampai di rumah Ruro yang memakan waktu selama kurang lebih 2 jam lebih. Dari arah jendela sesosok perempuan renta melihat di balik jendela, ia adalah ibunya temanku. Terkejut bukan main ibunya saat melihat anaknya pulang, dikarenakan tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Memang Ruro itu adalah teman yang dalam diamnya punya syndrome kejailan juga. Sebenarnya kedatangan kami ke Parit Surabaya adalah untuk menghadiri acara reunion akbar yang adiadakan setiap 3 tahun sekali, sekaligus merayakan tahun baru Hijriah.

Banyak sekali pengalaman yang aku dapatkan saat berada di tengah kehangatan keluarga yang bersuku Madura ini. keramahan membuatku merasa nyaman di sana. Selama berada di sana hampir setiap saat aku selalu ditawarkan makan. Awal kedatangan kami saja sudah disuguhkan nasi beserta lauk pauknya, tidak beberapa lama kemudian kue pun ditawarkan, kalau lama-lama di sana bisa nambah berat badan nih, hehehe. Tapi aku heran kenapa temanku Ruro tubuhnya bukan makin gemuk tapi makin kurus, aneh memang.

Hari Minggu, 18 Oktober 2015, kami bersiap-siap untuk mengikuti acara reunion yang diadakan di pesanteren Raudhatul Ulum. Pesantren temanku ini bisa sangatlah dekat cukup jalan lima langkah di  samping, karena memang rumahnya bersebelahan dengan pondok pesantren. Acara reounian tidak jadi diadakan di pagi hari, banyak para alumni yang tidak datang, selain acara reunion akbar ada juga acara orang tua para santri dan alumni, juga masyarakat sekitar untuk mengikuti ceramah akbar. santri wanita yang baru datang berada di asrama perempuan, kondisi bangunannya lumayan bagus, kamarnya juga cukup luas. Akhirnya para alumni bergabung di kamar mereka dulu dan bernostalgia bersama.

Potret kebersamaan itu memperlihatkan bahwa sebuah persaudaraan tidak akan termakan waktu dan dimensi yang berbeda. Ada sebuah kebahagian tertunda, tapi ketika pertemuan semuanya tumpah dan mengalir dengan indah bersama canda tawa. Perjalanan kali ini memberiku sebuah pengertian bahwa semua terasa lepas dalam kebersamaan meskipun dalam kesederhanaan.
Teruntuk, Sahabatku


Ahjuma Masruruoh
fose







Selasa, 03 November 2015

My Journey in Mabah with Hana

kebersamaan ka Ana dan murid-murid SDN 20 Mabah


My Journey in Mabah (Hana and Sari)

Perjalanan yang mengesankan tidak selamanya menyuguhkan pemandangan yang bagus dan indah, tapi  aku percaya setiap tempat menyimpan keindahan meski dalam keterbatasan. Hal tersebut yang dialami saat berkunjung ke desa Mabah. tulisan perjalanan ini Kupersembahkan untuk sahabat dari masa kecil, yaitu Kak Yohana semoga mendapat nilai A untuk PPL-nya. Meskipun kak Yoh pernah melepaskan kesempatan untuk menjadi seorang atlet olahraga, tapi percayalah kak dengan menjadi guru kita akan lebih bermanfaat bagi orang lain dan kita akan merasa lebih bahagia.

Kedatangan ku di desa Mabah bukanlah sebuah kesengajaan melainkan, untuk mengantarkan temanku kak Yoh, yang hendak meninjau lokasi PPL-nya di desa Mabah. Rute perjalanan yang kami lalui adalah melewati desa Balai Karangan menuju Kenaman, kemudian menuju desa Lomur barulah sampai di desa Mabah, jerak tempuh  yang dilalui selama 1 jam lebih.

Jalan yang kami lalui tidaklah mudah karena merupakan desa pedalaman  yang memiliki lobang-lobang besar dan juga krikil besar, bila musim kemarau debu yang pekat sangat banyak bertebaran di jalan-kebetulan kami ke sana pada bulan Agustus. yang pasti jalan  merupakan masalah utama yang selama ini memang dialami setiap daerah yang berada di pelosok.

Sesampai di SDN 20 Mabah, kami pun segera mencari ruang guru. Tapi sempat mengalami kebingungan karena hanya ada 6 kelas ditambah perpustakaan, dan aku mulai berpikir di mana kantor gurunya? setelah ada seorang perempuan setengah baya yang keluar di ruang perpustakaan kami langsung bertanya padanya di mana ruang guru? dan ia langsung mengantarkan kami ke ruang kepala sekolah. Terlihatlah seorang laki-laki paruh baya yang sedang mengetik di laptopnya, setelah kami menjelaskan maksud kedatangan kami ia pun menjelaskan bahwa kehadiran anak ppl dari STKIP-Melawi Entikong ini sangat dinantikan.

Beliau beralasan karena di sana masihlah kurang guru olahraganya, bahkan guru yang spesialis di bidang olahraga pun tidak ada, apalagi prestasi yang masih sangat minim didapatkan oleh anak-anak di sana, hanya pernah satu kali menang juara dua lomba catur tingkat kabupaten. Semantara melihat anak-anak yang tadi bermain sepak bola di lapangan menurutku tidak kalah hebatnya dengan pemain sepak bola di lapangan hijau sesungguhnya, karena sayang tidak ada pelatihnya. Sekolah ini memang baru dibangun beberapa tahun, sehingga itu juga mungkin yang menjadi faktor minimnya prestasi. 

Setelah diberikan data mengenai sekolah kami pun terkejut dari seluruh siswa di sekolah tersebut hanya dua atau tiga orang saja yang beragama Islam, tapi tidak heran memang desa pedalaman di daerah Sanggau kebanyakan merupakan suku dayak dan menganut agama Kristen khatolik sedangkan Islamnya sangatlah minim. Tapi menurut pernyataan kepala sekolah bahwa di situ juga ada guru agama Islam yang juga mengajar beberapa pelajaran lainnya.

Pada saat selesai mewawancarai kepala sekolah. Kami pun keluar dari ruang perpustkaan dan kami hendak mengambil dokumentasi, tapi hanya sedikit saja yang kami dapatkan di karenakan gerombolan babi-babi dari induk sampai anaknya berkeliaran di sekitar sekolah, kami pun memutuskan untuk pulang ke Balai karangan. Perjalanan yang cukup seru menurutku, meskipun aku tinggal di wilayah perbatasan, tapi baru kali ini aku pergi di desa yang kebiasaannya berbeda jauh denganku. Perjalanan ini tak akan aku lupakan seumur hidupku.


Teruntuk sahabatku, Yohana










dokumentasi pada saat ka Ana mengajar pelajaran olahraga di SDN 20 Mabah





dokumentasi pada saat ka Ana mengajar di dalam kelas